Risiko Gagal Panen 55.000 Hektar Komoditas Pertanian di NTB Ditanggung Asuransi

Erwin A Sasangko. (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Provinsi NTB adalah lumbung pangan nasional, karena luasnya potensi lahan pertanian. Tentu ekonominya bergantung pada sukses atau tidaknya hasil produksi. Semestinya, agar masyarakat petani tak menanggung risiko gagal panen, seharusnya petani mengasuransikan komoditas pertanian yang sedang diproduksinya.

Tingkat keberhasilan dan gagal panen sektor pertanian di NTB sangat erat kaitannya dengan pengaruhnya terhadap perekonomian. Sayangnya, jumlah lahan pertanian yang diasuransikan saat ini masih tergolong kecil. Meski demikian, Branch Manager Jasindo NTB, Erwin A Sasangko menyebut, animo petani beransuransi, terus naik. Saat ini Jasindo mengcover risiko gagal panen padi seluas 40-an ribu hektar di NTB dan 15.000 hektar jagung.

Iklan

Demikian juga peternakan, Jasindo memberikan perlindungan dari kematian, pencurian kepada 2.500 ekor sapi. Masing-masing premi disebutkan, untuk padi preminya sebesar 180.000/hektar. Petani membayar hanya 20 persen, 80 persen ditanggung pemerintah. “Hanya dengan membayar 20 persen, satu musim sudah dijamin risikonya oleh Jasindo,” kata Erwin kepada Suara NTB.

Jika terjadi gagal panen karena kekeringan, hama, banjir, dalam satu hektar petani mendapatkan ganti rugi senilai Rp6 juta. Sementara jagung, saat ini pemerintah belum memberikan subsidi premi. Tentu premi ditanggung penuh oleh petani. Ada empat klasifikasi premi, 2 persen, 2,5 persen, 3 persen dan 4 persen. Dari total nilai klaim yang diterima oleh petani jagung bila mengalami gagal panen. Klaim petani jagung ada pilihan Rp10 juta/hektar, ada juga Rp15 juta/hektar.

“Kalau petani pilih klaim Rp10 juta/hektar, kena 2,5 persen sama dengan Rp250.000, Pilih 3 persen sama dengan Rp300.000. Demikian seterusnya,” papar Erwin. Sementara untuk asuransi sapi, pemilik ternak bisa mengajukan klaim sebesar Rp10 juta, atau 15 juta jika terjadi kematian ternak, atau kemalingan. Petani hanya membayar 2 persen/tahun dari nilai klaimnya.

Pada tahun 2019, Jasindo membayar klaim sebesar Rp 3,5 miliar untuk lahan padi, Rp1,5 miliar untuk petani jagung dan Rp1,5 miliar untuk klaim ternak. “Kenapa klaim pertanian padi besar? Akibat terjadinya pergeseran masa turun hujan, kemarau panjang sehingga terjadi kekeringan dan gagal panen. Petani mendapatkan ganti rugi,” ujarnya.

Keuntungan berasuransi, lanjut Erwin, petani/peternak akan merasa aman apabila terjadi kerugian. Bisa segera melakukan  tanam kembali karena kerugian dicover asuransi dan bagi peternak dapat membeli sapi lagi kalau sapi hilang atau mati karena penyakit.

Asuransi Jasindo berada di bawah PT Asuransi Jasa Indonesia (Persero) atau sering disebut sebagai PT Asuransi Jasindo. Perusahaan ini termasuk salah satu asuransi terbaik di Indonesia. Status Jasindo sendiri adalah BUMN (Badan Usaha Milik Negara). (bul)