Rinjani Masih Ditutup, Pendaki Diminta Bersabar

Aktivitas pendakian ke Gunung Rinjani sebelum pandemi Covid-19. Saat ini aktivitas pendakian masih ditutup untuk mencegah penyerabaran virus Corona. (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Penutupan aktivitas pendakian Gunung Rinjani merupakan salah satu cara pemerintah menekan potensi penyebaran virus Corona (Covid-19). Kendati demikian, beberapa pendaki didapati masih melakukan pendakian secara ilegal sampai saat ini.
Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR), Dedy Asriady, menerangkan pengecekan secara rutin dilakukan pihaknya di dalam kawasan TNGR. Itu rutin. Kita tetap jaga, (pendakian) tetap ditutup, kita patroli. Kalau ada yang ditemukan saat patroli tetap kita suruh turun, ujarnya saat dikonfirmasi, Jumat, 5 Juni 2020.

Menurut Dedy, dalam situasi saat ini memang perlu adanya saling pengertian. Mengingat penutupan yang dilakukan merupakan upaya mencegah penyebar-luasan Covid-19, termasuk dari aktivitas pendakian yang seringkali menarik minat banyak orang.

Iklan

Di pintu-pintu pendakian, di media sosial semua kami sudah jelaskan ini ditutup karean Covid. Kalau didapat (ada pendaki ilegal), kita juga jelaskan mereka itu disuruh turun karena Covid, ujarnya. Di sisi lain, sampai saat ini seluruh pendaki ilegal yang tertangkap saat patroli disebutnya bersikap cukup kooperatif.

Yang belum mendaki di pintu-pintu masuk bersedia kita minta kembali. Ada yang lolos-lolos, didapat lagi di atas atau di danau (saat patrol) juga kita suruh kembali, jelas Dedy. Dalam menghadapi situasi ini, ia berharap masyarakat dapat bersabar. Semua tempat wisata di seluruh Indonesia masih ditutup. Tolong bersabar, sambungnya.

Untuk memastikan upaya pencegahan penyebaran Covid-19 di dalam kawasan berjalan dengan baik, BTNGR telah melakukan koordinasi stakeholder terkait. Diantaranya Satgas Covid-19 NTB, Kepala Desa, Kelompok Pecinta Alam Lombok Timur, Koramil, Polsek, Polres, Brimob dan Polda NTB untuk mencegah para pengunjung yang berniat melakukan pendakian.

Hasil koordinasi ini diwujudkan melalui penjagaan terpadu di setiap jalur pendakian resmi ataupun tidak resmi. Selain itu, pengawasan aktivitas pendakian ilegal juga dilakukan melalui Patrol Virtual RMS (Remote Monitoring System) dengan cara memantau beberapa sudut kawasan melalui CCTV yang terpasang di beberapa titik kawasan.
Bagi pendaki yang terjaring dalam operasi pendaki ilegal, ditindak sesuai dengan ketentuan peraturan yang berlaku, dan sanksi yang berat adalah ancaman blacklist atau dilarang melakukan pendakian, ujar Dedy.

  Rinjani Puluhan Kali Alami Gempa Vulkanik

Sampai dengan Kamis, 4 Juni 2020 pihaknya menerima laporan adanya 7 orang pendaki ilegal menjalani pemeriksaan di Kantor BTNG. Selain itu, para pendaki tersebut diminta membuat surat pernyataan untuk tidak mengulangi perbuatannya lagi.

Selain itu para pendaki juga diberi pembinaan bersama oleh Direktorat Binmas Polda NTB dan Satgas Polhut TNGR agar para pendaki yang terbilang masih muda ke depan menjadi pendaki yang bertanggung jawab. Apabila mengulangi perbuatannya, maka akan menerima tindakan yang lebih berat sesuai SOP. Yaitu pelarangan memasuki kawasan konservasi tidak hanya di TNGR, namun seluruh kawasan Konservasi di Indonesia, pungkasnya. (bay)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here