Rinjani Ditutup, Ribuan Pelaku Wisata Menganggur

Longsor di bawah Pelawangan Senaru memutus jalur pendakian menuju Danau Segara Anak. (Suara NTB/ist_TNGR)

Mataram (Suara NTB) – Ribuan pelaku usaha dan pekerja di sektor jasa trekking masih menganggur. Mereka berharap Rinjani segera dibuka untuk umum. Setidaknya, April 2019 sudah mulai bisa diakses, bertepatan dengan musim pendakian.

Harapan itu disampaikan Rapsanjani, pemilik Trekking Organizer (TO) Lombok Adventure. Ia mengakui, kondisi pelaku wisata dan pekerja seperti porter semakin gelisah karena kehilangan pekerjaan sejak gempa pertama Juli 2018 lalu. Jalur Senaru dan Sembalun ditutup total, bahkan jalur tikus Torean juga tidak bisa dilewati.

Iklan

‘’Kita sangat berharap secepatnya dibuka. April 2019 kan sudah masuk musim pendakian. D isitu kita harapkan mulai dibuka,” ujar Junot, sapaan Rapsanjani menjawab Suara NTB Minggu (19/10) kemarin. Ada ribuan orang yang selama ini menggantungkan hidup dari Rinjani, diantaranya TO, pengusaha travel, sopir, para porter juga guide.

Tapi di sisi lain ia memahami situasi di  Rinjani saat ini, ditutup akibat longsor di banyak titik dan menimbun jalur pendakian. Hasil survei jalur baru baru ini, longsor pada jarak 200 meter sebelum Pelawangan. Jalur dari Pelawangan ke Danau Segara Anak juga longsor. Opsi jalur tikus Torean juga tidak bisa diharapkan.

“Jalur ilegal ini juga longsor di dekat air terjun juga longsor,” ungkapnya.

Mereka tidak bisa memaksa agar jalur dibuka dalam situasi masih berbahaya, sebelum ada jaminan dari pihak berkompeten bahwa Rinjani sudah aman. Dia dan para TO lainnya siap membantu jika diperlukan oleh pihak Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) saat penataan ulang jalur trekking.

“Kami dan teman teman pelaku wisata Rinjanji siap. Kita gotong royong untuk melakukan penataan jalur. Karena di Rinjani ada ribuan jiwa menggantungkan harapan,” ujarnya.

Sejauh ini pihaknya terus berkoordinasi dengan TNGR untuk terus memantau perkembangan, sembari meyakinkan para pendaki agar tidak nekad mendaki. Para wisatawan yang selama ini menjadikan Rinjani sebagai pilihan utama dan alternatif untuk mendaki diminta bersabar.

‘’Mereka juga tidak berani naik lewat jalur ilegal. Karena takut longsor. Ada petugas juga yang menjaga,’’ ujarnya.

Keinginan TO itu tidak mudah dipenuhi. Sebab hasil survei  TNGR bersama tim gabungan melakukan survei kondisi jalur pendakian  pascagempa beruntun Juli – Agustus 2018,  kesimpulan sementara,  tiga jalur  Sembalun, Senaru dan jalur budaya Torean masih berbahaya.

Sejumlah fasilitas rusak seperti pos TNGR Sembalun dan Senaru. Selain itu jalur trekking menuju Pelawangan, hingga menuju danau juga tertutup  akibat longsor.

Sepanjang jalur pendakian Sembalun terdapat 14 titik dalam kondisi longsor dan 11 titik tanah retak.  Shelter di jalur pendakian Sembalun dalam kondisi baik 12 unit, namun satu unit rusak ringan, satu unit rusak sedang, satu unit rusak berat. Sementara kondisi mata air di Pos II Sembalun dalam kondisi baik.

Satu unit pos jaga di Pos II Sembalun dalam kondisi rusak ringan.   Sebuah jembatan beton dengan rantai besi dalam kondisi rusak berat namun masih dapat dilewati tim waktu melakukan survei  sampai jarak  kilometer 7.8. Temuan lainnya, Jalur pendakian Sembalun terputus akibat longsor di Bukit Penyesalan, atau sekitar 120 meter sebelum Pelawangan Sembalun.

Sepanjang jalur pendakian Senaru terdapat 14 titik longsor dan retakan. Beberapa shelter di jalur pendakian Senaru dalam kondisi rusak ringan hingga berat.  Sedangkan kondisi ketersediaan mata air ada di Pos II, namun di Pos III dan Cemara Lima mongering.

Sedangkan kondisi Jalur Budaya Torean, terdapat 12 titik longsor dan retakan tanah. Jalur pendakian terputus di jalur sebelum Air Terjun Penimbungan akibat longsor. (ars)