Rieke Diah Pitaloka Sesalkan Nuril Jadi Korban UU ITE

Anggota DPR RI, Rieke Diah Pitaloka (Suara NTB/ars)

Mataram (Suara NTB) – Anggota DPR RI, Rieke Diah Pitaloka menolak keras upaya kriminalisasi terhadap korban pelecehan seksual, sebagaimana dialami Baiq Nuril Maknun yang diduga dilakukan M, mantan atasannya di SMAN 7 Mataram.

Apalagi, upaya mengkriminalisasi itu menggunakan Undang Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Korban pelecehan seperti Nuril, akan mudah dilemahkan dengan UU tersebut.

Iklan

‘’Sebenarnya negara harus hadir memberi perlidungan kepada mereka yang menjadi korban seperti Nuril ini. Jangan dipatahkan dengan UU ITE. Konteksnya harus dilihat, ada korban disini,’’ kata Rieke saat menemui Baiq Nuril di Mataram, Selasa, 20 November 2018.

Jika korban kemudian dikriminalkan, maka akan timbul dua petaka sekaligus. Selain perempuan menjadi korban kejahatan seksual, juga menjadi korban dalam proses tindak pidana.

‘’Jangan dilihat tindakannya saja, tapi lihat bahwa korbannya pangkat dua. Sudah korban dilecehkan, dipidana pula,’’ kritiknya.

Aktivis perempuan ini mengajak semua pihak berterimakasih kepada Baiq Nuril yang berani mengungkap kasus ini, meski pun akhirnya harus diproses pidana.

 ‘’Semua orang yang puya keluarga perempuan, kita berjuang, suarakan perlawanan untuk  perempuan Indonesia,’’ tandasnya.

Rieke yang kini duduk di Komisi VI DPR RI menolak keras perlawanan perempuan yang dengan mudah dianulir dengan UU ITE. Lagi lagi konteksnya menurut dia sama sama, urusan pencemaran nama baik.

‘’Bayangkan, jika dia lemah secara status sosial,  maka mudah dipatahkan,’’ tandansya.

Sebagai anggota Badan Legislasi, kini ia memperjuangka dua hal sekaligus dan ada hubungannya dengan kasus Nuril yang dipecat dari pekerjaannya sebagai Honorer SMAN  7 Mataram.

Komisi VI saat ini sedang memperjuangkan revisi Undang Undang Aparatur Sipil Negara (ASN). Tujuannya, agar ada kepastian dan perlindungan hukum bagi non PNS. Sebab para pekerja non PNS tidak punya perlindungan hukum, sebagaimana dialami Nuril. Kedua, memperjuangkan RUU penghapusan kekerasan seksual. (ars)