Ribuan KK Terkena Dampak Kekeringan di Sumbawa Barat

Taliwang (Suara NTB) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat ada sekitar 19.591 Kepala Keluarga (KK) dari 12 desa di Sumbawa Barat diprediksi akan terkena dampak bencana kekeringan tahun 2017. Jumlah tersebut tersebar di empat kecamatan, yakni Kecamatan Seteluk, Jereweh serta kecamatan Poto Tano dan Taliwang yang dikhawatirkan akan mendapat bencana kekeringan terparah.

Kepala Pelaksana BPBD Sumbawa Barat, Ir. H. Lalu Muhammad Azhar, MM, kepada Suara NTB, Jumat, 18 Agustus 2017 mengatakan, hasil pendataan yang dilakukan pihaknya hanya empat kecamatan saja yang diperkirakan akan mengalami bencana kekeringan.

Iklan

Kecamatan yang diprediksi akan mengalami bencana kekeringan terparah hanya dua kecamatan saja yakni Kecamatan Poto Tano dan Taliwang. Hal tersebut terjadi karena lokasinya yang berada di daerah pesisir sehingga sangat rentan terjadi kekeringan.

Bahkan di kecamatan Poto Tano saja, hampir semua desa diprediksi akan mengalami kekeringan, dengan jumlah ribuan KK yang akan terkena dampak. “Rata-rata semua kecamatan di Poto Tano diprediksikan akan mengalami kekeringan. Sedangkan untuk kecamatan Taliwang hanya dua desa saja yakni desa Batu Putih dengan jumlah KK 3. 244 orang dan desa Kertasari 1. 820 KK,” ungkapnya.

Dikatakannya, pendataan terhadap lokasi yang akan mendapat bencana kekeringan tersebut berdasarkan hasil pemantauan di tingkat lapangan. Dimana, di 12 desa tersebut mulai terlihat penurunan debit air secara drastis di beberapa sumur warga.

Hanya saja, penurunan debit air tersebut belum begitu berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat sekitar. Mengingat masyarakat masih bisa memenuhi kebutuhan air bersihnya secara mandiri. Ketika nantinya bencana kekeringan sudah terjadi maka instansi terkait akan langsung melakukan distribusi air bersih kepada masyarakat.

“Dampaknya (kekeringan) belum begitu terlihat di masyarakat, tetapi kita akan mengatensi hal tersebut supaya masyarakat tidak kesulitan lagi ketika bencana kekeringan ini benar-benar terjadi,” ujarnya.

Ia menyebutkan, upaya dalam mengatensi masalah ini (kekeringan) ini pihaknya dalam waktu dekat akan mengajukan Surat Keputusan (SK) yang nantinya akan ditandatangani oleh bupati terkait penetapan status siaga bencana kekeringan di Sumbawa Barat. Termasuk juga akan membuat posko siaga bencana kekeringan.

Dalam surat tersebut, siaga darurat bencana kekeringan akan berlaku selama 92 hari, mulai dari tanggal 1 Agustus, sampai dengan 31 Oktober mendatang.

“Kita sudah buatkan surat untuk mengatasi masalah ini, mudah-mudahan bencana kekeringan di Sumbawa Barat tidak terlalu parah, sehingga masyarakat bisa beraktifitas seperti biasanya,” tandasnya. (ils)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional