Revolusi Pangan Butuh Sentuhan Industrialisasi

INDUSTRIALISASI di sektor produksi pangan di NTB adalah hal yang mutlak diperlukan jika para penentu kebijakan ingin mendorong lahirnya revolusi bidang pangan di NTB. Sentuhan industri dibutuhkan agar produksi pangan di NTB yang melimpah, bisa mendatangkan nilai tambah untuk meningkatkan hajat hidup masyarakat yang memproduksinya.

Pendapat itu disampaikan oleh Anggota DPR RI asal NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah dalam seminar nasional bertema “Revolusi Pangan Berbasis Sumber Daya Daratan dan Lautan” di Mataram, Senin, 5 Desember 2016.

Iklan

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Zul – sapaan akrab Zulkieflimansyah – menegaskan penilaiannya terhadap terminologi revolusi pangan, dari sudut pandang seorang akademisi berlatar belakang pendidikan ekonomi. Menurutnya, revolusi pangan seharusnya tidak dimaknai sebagai upaya mengubah pola konsumsi masyarakat.
“Revolusi pangan itu bukan berarti orang sudah enak-enak makan nasi, tiba-tiba disuruh makan ubi,” ujarnya.

Dari perspektif ekonomi, revolusi pangan harus dimaknai sebagai upaya untuk memaksimalkan nilai tambah dari komoditas pangan di NTB. “Dengan revolusi pangan itu, kalau NTB itu mau jadi lumbung pangan, maka jagung harus diolah di NTB sendiri. Kalau NTB mau jadi lumbung pangan, maka padi harus diolah di NTB sendiri. Kalau NTB mau bikin revolusi pangan, kacang hijau, kedelai, ikan, rumput laut harus diolah di sini,” tegasnya.

Ia menegaskan, pengolahan melalui sentuhan industri adalah upaya untuk memberikan nilai tambah dan akan menjaga kesinambungan pangan.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa proses menuju industrialisasi tidaklah semudah membalik telapak tangan. Dibutuhkan kesabaran yang revolusioner pula untuk menjadikan revolusi industri benar-benar menjadi nyata di NTB. Dalam upaya ini pula, pemerintah harus berhadapan dengan ekspektasi masyarakat yang cukup tinggi.

Ia menilai, dengan teknologi informasi yang berkembang melalui aktivitas sosial media, masyarakat merasa lebih berdaya dalam menyuarakan ekspektasi mereka. “Dalam era sosial media seperti sekarang, terjadi revolusi peningkatan harapan. Masyarakat kita megang Facebook, megang Twitter, megang HP, merasa berdaya dan merasa mampu melakukan apa saja pada kita. On the other hand, semua yang kita lakukan ini tidak ada yang instan. Semua butuh waktu, semua butuh proses, semua butuh kesabaran yang revolusioner juga,” tegasnya.

Meski sulit dan memakan waktu, Dr. Zul yakin saat ini jalan panjang menuju industrialisasi sudah mulai terbentang di depan mata. Di Dompu, Bupati Drs. H. Bambang M. Yasin sudah memperlihatkan kesuksesan menarik investor untuk membuat pabrik gula. Menurut Dr. Zul, contoh yang diberikan oleh Bupati Bambang seharusnya bisa direplikasi di daerah lain di NTB untuk membangun industrialisasi di bidang pangan. “Kalau di Dompu bisa dilakukan, Insya Allah di tempat lain di NTB akan lebih mudah,” ujarnya.

Dr. Zul sendiri, juga telah menanam benih kemandirian di bidang industri pangan dengan mendirikan Universitas Teknologi Sumbawa (UTS). Melalui UTS, tidak saja ia mampu menarik talenta-talenta terbaik dari berbagai daerah. Namun, juga bisa menjadi komponen efektif untuk mendongkrak Indeks Pembangunan Manusia di NTB.

Kehadiran UTS ini menjadi bagian yang saling melengkapi dengan adanya Science Technopark (STP) di Sumbawa. Dengan dua komponen ini, Dr. Zul berharap sentra industri kecil dan menengah di Sumbawa bisa tumbuh dan berkembang.

“Jadi mudah-mudahan apa yang kita lakukan di Sumbawa saat ini nanti ada pabrik rumput laut. Sehingga seperti Phoenix di Mataram itu hadir di seluruh tempat di tempat kita,” ujarnya. Ia juga berharap, nantinya akan hadir pabrik pengolahan daging. Sehingga, kebutuhan daging perusahaan besar seperti PT. Amman Mineral Nusa Tenggara (PTAMNT) bisa dipasok dari NTB sendiri.

“Newmont (PTAMNT) itu pasarnya besar. Tapi masak harus ngirim sapinya ke Subang, dari Subang baru balik ke Sumbawa. It doesnt make sense,” tegasnya.

Kepala Pusat Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan BKP  Kementerian Pertanian RI, Ir. Sri Sulihanti, M.Sc mengutarakan, saat ini dunia sedang dilanda kekhawatiran akan adanya krisis pangan global. Pada tahun 2050 mendatang, penduduk dunia diperkirakan telah mencapai lebih dari 10 miliar. Jumlah penduduk sebanyak itu harus diantisipasi dengan mendorong peningkatan produksi pangan sebesar 70 persen dari sekarang.

“Sehingga memang kalau kita tidak waspada dan bijaksana dalam pembangunan pangan kita ini tentu saja kita akan kerepotan,” ujarnya.

Ia menegaskan, salah satu prinsip pembangunan ketahanan pangan ini adalah berdasarkan kemandirian pangan dan kedaulatan pangan. Sementara tujuan utama dari pembangunan pangan untuk melahirkan manusia yang sehat aktif produktif, cerdas. “Menghasilkan kualitas SDM yang andal itu tujuan akhirnya.”

Sri Sulihanti menilai, dalam dua tahun terakhir, sumbangan sektor pertanian terhadap pertumbuhan ekonomi cukup baik. “Padi, mungkin 2016 Pak Menteri sudah menyampaikan, kita tidak impor. Bawang merah dan cabai saya kira meningkat produksinya. Kemudian, dengan tidak adanya impor sebagian jagung, saya kira impornya turun 60 persen, ini bisa menghemat devisa sekitar Rp 52 triliun,” ujarnya.

Ia menambahkan, salah satu yang perlu dicermati adalah konsumsi pangan kita. “Konsumsi protein meskipun sudah di atas rata-rata yang dianjurkan, tapi kualitasnya masih perlu ditingkatkan. Protein hewaninya masih harus terus ditingkatkan. Masih didominasi oleh konsumsi protein nabati. Beras saja masih 7-8 persen dan sebagainya,” ujar Sri. (aan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here