Retribusi Jasa Wisata di Bangsal Tak Maksimal

Tanjung (Suara NTB) – Penarikan retribusi jasa masuk kawasan wisata di sejumlah pos terkesan masih belum maksimal. Mencermati data setoran retribusi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Lombok Utara ke Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) sejumlah pos penarikan masih nirretribusi pada periode penarikan Januari – Agustus 2017.

Sebagaimana data yang dikeluarkan oleh Bapenda, total retribusi masuk kawasan wisata di Lombok Utara pada periode Januari – Agustus sebanyak Rp 253,94 juta. Setoran Dispar mengalami fluktuasi, masing-masing Januari sebesar Rp 60,775 juta, Februari sebesar Rp 15,836 juta, Maret sebesar Rp 28,094 juta, April sebesar Rp 24,574 juta. Berikutnya setoran bulan Mei sebesar Rp 35,915 juta, bulan Juni sebesar Rp 11 juta, dan setoran Juli dengan angka tertinggi sebesar Rp 51,425 juta. Terakhir bulan Agustus sebesar Rp 26,321 juta.

Iklan

Seluruh setoran itu terakumulasi dari penarikan di 8 titik yang ada, yakni Pos Senaru, Bangsal, Teluk Nara, Kerta Gangga, Kertaraharja, Mentigi, Trawangan Kecinan. Dari 8 pos tersebut, Senaru menyumbang persentase tertinggi sebesar 63,95 persen atau sebesar Rp 162,39 juta. Pos Bangsal dengan tingkat keramaian pengunjung yang relatif banyak justru hanya menyumbang Rp 44,916 juta atau 17,69 persen saja.

Lebih lanjut dari data tersebut, penarikan retribusi diduga tidak konsisten dilakukan. Di mana dari 8 pos, setiap bulannya ada pos yang nirretribusi. Bulan Januari, Mei dan Juli ada 3 pos yang nihil setoran, bulan Februari, Maret, April dan Agustus terdapat masing-masing 4 pos nihil setoran, serta pada bulan Juni terdapat 7 pos yang tidak menyetorkan retribusi.

Khusus Bangsal Pemenang sebagai pintu utama menuju 3 Gili, terdapat 2 bulan nirretribusi, yakni bulan Februari dan Juni. Padahal bulan Januari menyumbang Rp 39,505 juta. Sementara pada bulan Maret di Bangsal hanya menyetorkan Rp 544 ribu saja.

Kepala Bidang Pendapatan pada Bapenda Lombok Utara, Arifin via telepon Kamis, 12 Oktober 2017, meralat setoran Bangsal pada Agustus sebesar Rp 44,916 juta. Angka yang relatif berimbang dengan setoran Bangsal pada Januari sebesar Rp 39,505 juta. Hal ini dimakluminya, karena pada periode itu Koperasi Karya Bahari dilibatkan memungut.

“Target retribusi yang dibebankan daerah melalui retribusi jasa masuk kawasan wisata untuk Dispar meningkat dari Rp 1 miliar. Sampai saat ini baru terkumpul Rp 253,94 juta,” ungkap Arifin.

Ketua Koperasi Karya Bahari, Sabarudin, mengungkapkan  penarikan retribusi jasa masuk wisata melalui loket KKB kembali berlaku pada Agustus 2017. Sebepumnya aktifitas ini terhenti dimana terakhir kali KKB melakukannya pada Januari 2017.

“Pada bulan Februari hingga Juli 2017 ditarik oleh Dispar sendiri. Bulan Agustus kemarin Dispar kembali menitipkan tiket masuk kawasan wisata di loket kami,” kata Udin.

Sejak dikerjasamakan, KKB pun mulai memberi setoran rutin tiap bulan. Mulai Agustus hingga September lalu, setoran diserahkan KKB ke Dispar dengan angka variatif.

Terpisah, Kepala Disbudpar Lombok Utara, H. Muhammad, S.Pd., mengamini tidak optimalnya penarikan retribusi masuk kawasan wisata. Setelah selama 5 bulan tak ditarik oleh KKB, Disbudpar pun hanya mengandalkan petugas OJT (tenaga kontrak)

Diakui Muhamad, penarikan retribusi oleh petugas OJT tidak maksimal. Dispar menempatkan tenaga kontrak bahkan di tiap-tiap boat yang akan menyeberang, namun hasilnya juga tak memuaskan. “Penarikan oleh petugas kita ternyata tidak bisa maksimal. Untuk itu kita mulai kerjasamakan kembali dengan pihak KKB,” ¬†ujarnya. (ari)