Retakan Akibat Gempa Rawan Longsor

Ilustrasi longsor (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Musim hujan saat ini, selain banjir, patut diwaspadai adalah bencana longsor.  Kekhawatiran itu terjadi pada rekahan sisa gempa Juli dan Agustus lalu.

Prediksi tersebut terjadi Kamis, 29 November 2018 sore kemarin. Longsor menutupi jalan di Desa Sembalun Bumbung, Kecamatan Sembalun, Lombok Timur (Lotim). Bahkan sebuah jembatan putus akibat digerus banjir yang bercampur lumpur.

Iklan

‘’Perkiraan kami, tidak menutup kemungkinan (retakan gempa pemicu longsor) kalau kita melihat material batu,’’ kata  Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD NTB, Agung Pramuja kepada Suara NTB Kamis, 29 November 2018. Saat ini situasi di lokasi kejadian sedang ditangani Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Lotim.

Sembalun, Lotim diketahui salah satu titik terparah akibat guncangan gempa pertama 6,4 SR tanggal 29 Juli lalu. Ratusan titik retak dan longsor ditemukan akibat gempa utama dan sejumlah gempa susulan sampai Agustus lalu.

Retakan disebabkan gempa di kawasan pegunungan dan perbukitan sangat rentan terjadi longsor. Karena teorinya, kata dia, air hujan yang terserap dan tertampung ke tanah, akan menambah volume beban. Sehingga setiap saat bisa terjadi longsor karena tanah labil akibat retakan.

‘’Jadi retakan-retakan disebabkan gempa ini dapat memicu terjadinya longsor,’’  kata Agung. Lebih khusus diingatkannya, kepada warga di sekitar Sembalun (Lotim), Bayan dan sejumlah kecamatan lainnya di Lombok Utara yang ada di radius kaki Rinjani.

Karena dalam catatannya, ada ratusan titik retakan akibat gempa. Selain itu, saat gempa besar 7,0 SR tanggal 5 Agustus lalu, memicu longsor di ratusan titik, tidak hanya di Gunung Rinjani tapi di bukit sekitarnya.

Agung juga mengimbau masyarakat yang bermukim di kaki Rinjani, khususnya di jalur sungai yang dilewati aliran air dari Rinjani agar mewaspadai banjir bandang.

  Dialog di Penjara Dinilai Efektif Sadarkan Napi Terorisme

‘’Jadi kami ingatkan, dampak gempa ada ratusan titik longsoran di Rinjani. Kita khawatirkan  akan terjadi banjir bandang,’’ katanya mengingatkan.

Analisis situasi itu diharapkan jadi perhatian masyarakat agar menjauhi titik-titik yang dianggap berbahaya, terutama saat hujan. Seperti menjahui kawasan perbukitan, pohon, tiang listrik dan ruas sungai.

Saat ini, kata dia, kondisi cuaca di NTB masuk musim hujan. Potensi terjadi siklus bencana seperti banjir, tanah longsor,  harus diwaspadai. Terlebih guncangan gempa berdampak kerusakan terjadi di Sumbawa Besar, KSB, Lombok Timur,  Lombok Tengah, Lombok Barat, Lombok Utara dan Mataram.

Ia juga mendorong BPBD kabupaten dan kota lebih tanggap melakukan penanggulangan bencana. Diharapkan juga peran SKPD di tingkat kabupaten dan kota, berkoordinasi dengan BPBD  setempat dalam rangka koordinasi pencegahan demi meminimalisir korban bencana.

Terpisah, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan soal potensi hujan  lebat dalam sepekan kedepan. Masyarakat  diminta waspadai ancaman banjir dan tanah longsor.

BMKG memantau dan menganalisis curah hujan beberapa hari terakhir yang menunjukkan sebagian wilayah Jawa termasuk NTB telah diguyur hujan selama beberapa pekan terakhir. Keadaan ini dapat menimbulkan dampak bencana hidrometeorologi seperti genangan, banjir dan longsor.

Adanya aliran massa udara basah yang masuk dari Samudera Hindia turut mendukung pertumbuhan awan hujan di wilayah Sumatera bagian Selatan, Jawa, Bali, NTB, NTT, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan dan Tenggara serta Maluku.

Kondisi ini dapat menyebabkan terjadinya potensi hujan lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang khususnya di Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur  dalam  lima hari ke depan. (ars)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here