Retakan Akibat Gempa Jadi Ancaman Bencana Longsor

Titik longsor di Gunung Rinjani yang dikhawatirkan terus bertambah saat musim hujan. (Suara NTB/ist_tngr)

Mataram (Suara NTB) – Gempa beruntun yang melanda Lombok dan Sumbawa dikhawatirkan memicu ancaman bencana longsor. Retakan tanah akibat gempa akan menampung air pada saat musim hujan dan setiap saat bisa menjadi air bah bercampur lumpur.

Kekhawatiran itu disampaikan, Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) Sudiyono, Jumat, 9 September 2018 kemarin. Menurutnya, longsor jadi ancaman bencana baru saat musim hujan. ‘’Makanya kita lihat saat musim hujan ini. Karena rekahan tanah akibat gempa itu bisa jadi ancaman longsor,’’ jelas Sudiyono.

Iklan

Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD NTB, Agung Pramuja juga mengkhawatirkan hal yang sama. Perbukitan di daerah-daerah terdampak gempa seperti Lombok Timur dan Lombok Utara terdeteksi retakan dan longsor akibat gempa.

‘’Kami memperkirakan akibat gempa itu  terjadi retakan-retakan, selain di Rinjani juga di bukit bukit sekitarnya,’’ kata Agung. Masyarakat yang tinggal di sekitar bukit diminta mewaspadai ancaman longsor akibat rekahan tanah tersebut.

Pihaknya sudah berkoordinasi dengan BPBD di tingkat kabupaten kota, khususnya di wilayah terdampak gempa di Lombok Utara, Lombok Barat, Lombok Timur sampai di Pulau Sumbawa. Masing- masing BPBD diminta untuk mengimbau langsung masyarakat agar waspada, tidak beraktivitas di sekitar perbukitan yang rawan longsor.

Dalam catatan BMKG per 6 November lalu, gempa bumi Lombok – Sumbawa sudah terjadi 2253 kali gempa bumi.  Data gempa bumi pendahuluan  601 kali, gempa bumi susulan 5 Agustus 2018 dengan kekuatan paling besar 7,0 SR, setelah itu mencapai  1.013 kali.  Kemudian gempa bumi 19 Agustus 2018 6,9 SR mencapai 639 kali gempa susulan. Total gempa bumi yang dirasakan mencapai 150 kali.

Retakan yang banyak terjadi di Gunung Rinjani dan sejumlah bukit di Sembalun Lombok Timur. Di banyak titik di Lombok Utara rekahan-rekahan sama banyak terdeksi. Gempa pertama yang terjadi 6,4 Skala Richter (SR) memicu retakan dan longsor.

Di jalur Sembalun terdapat 14 titik dalam kondisi longsor dan 11 titik retak. Juga di sepanjang jalur Senaru Lombok Utara, di jalur Senaru Lombok Utara terdeteksi 14 titik longsor dan rekahan. Terdeksi juga longsor dan retakan tanah 12 titik di jalur Torean Lombok Utara.

Gempa susulan yang beruntun terjadi memicu rekahan baru tidak saja di Rinjani, tapi juga di bukit bukit sekitarnya. Sebagaimana gempa susulan 4,6 SR Selasa (6/11) lalu juga memicu kepulan debu di bukit Sembalun. Debu diperkirakan berasal dari rekahan tanah akibat guncangan gempa. (ars)