Resiko Kematian Pasien Covid-19 di Mataram di Atas Rata-rata Nasional

H. Usman Hadi (Suara NTB/cem), I Nyoman Suandiasa (Suara NTB/cem)

Mataram (Suara NTB) – Tingkat fatalitas kasus kematian pasien teridentifikasi terpapar Covid-19 di Kota Mataram di atas rata-rata nasional. Pasien dengan riwayat penyakit penyerta (komorbit) memiliki resiko tinggi. Penerapan empat pilar protokol kesehatan syarat utama harus dijalankan oleh masyarakat demi memutus mata rantai penularan.

Persentase kematian di Kota Mataram 6,7. Hal ini sangat jauh berbeda dari rata-rata nasional yang 5,5 persen. Dari data Dinas Kesehatan Kota Mataram, masyarakat yang memiliki penyakit komorbit seperti hypertensi, penyakit jantung, kencing manis, obesitas dan lainnya mencapai 7.800 jiwa.

Iklan

Juru Bicara Tim Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Mataram, Drs. I Nyoman Suandiasa dikonfirmasi akhir pekan kemarin tidak membantah hal tersebut. Dari data diakui, resiko kematian warga yang terpapar Covid-19 relatif tinggi dibandingkan persentase rata-rata nasional yang mencapai 5,5 persen. Kasus kematian jika dibandingkan dengan data tahun 2019 tidak jauh berbeda.

“Persoalan ini unik. Ada atau tidak ada covid tingkat kematian sama di bulan yang sama di tahun berbeda,” terangnya.

Pasien positif Covid-19 yang meninggal sampai Minggu, 26 Juli 2020 pukul pukul 12.00 Wita mencapai 57 orang. Pasien rata-rata memiliki riwayat penyakit penyerta atau komorbit.

Nyoman menekankan, hal sederhana yang perlu dilakukan oleh masyarakat adalah disiplin pada diri, keluarga dan masyarakat untuk menerapkan empat pilar protokol kesehatan Covid-19. Seperti, mengenakan masker, rajin cuci tangan, jaga jarak serta hindari kerumunan.

Namun demikian, pencegahan maupun penanganan terhadap penyebaran wabah tersebut tidak sesederhana yang dibayangkan. Apalagi efek dari kenormalan baru. Psikologi masyarakat mulai menormalkan diri dari segala aktivitas. Fenomena yang dihadapi ibukota provinsi adalah sebagai pusat pemerintahan, kemasyarakatan, perekonomian dan penanganan kesehatan membawa konsekuensi.

“Apa yang dialami Kota Mataram juga dialami beberapa hal daerah lain di Indonesia, bahkan seluruh dunia,” terangnya.

Penyampaian Walikota Mataram, H. Ahyar Abduh demikian kata Nyoman, jangan sampai tren positif dijadikan tolok ukur keberhasilan tim gugus tugas. Parameter penilaiannya itu tidak sesederhana karena banyak faktor eksternal.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Kota mataram, dr. H. Usman Hadi menjelaskan, jika dibandingkan kasus kematian dari bulan Maret-Juni di tahun 2019 dengan bulan yang sama di tahun 2020 tidak terjadi kenaikan. Contohnya, di bulan Maret 2019 kasus kematian 126 orang, April 126 orang, Mei 130 orang dan bulan Juni 112 orang. Sedangkan, di bulan Maret tahun 2020 kasus kematian 124 kasus, April 100 kasus, Mei 69 kasus dan 56 orang di bulan Juni. Pasien meninggal dunia akibat terpapar virus Corona baik berstatus PDP maupun positif di bulan Maret 2020 tercatat 2 orang, April 3 orang, 11 orang pada bulan Mei dan 27 kasus pada bulan Juni. “Kalau dilihat data dari tahun sebelumnya tidak ada kenaikan kasus kematian,” kata Usman.

Pasien yang memiliki penyakit penyerta atau komorbit memiliki resiko tinggi jika terpapar virus Corona. Sebab, virus ini akan memperberat. Umpannya, pasien dengan penyakit jantung dan diabet jika terpapar virus Corona semakin memperberat penyakitnya. Oleh karena itu, Usman menyarankan, pasien yang memiliki riwayat penyakit tertentu disarankan menjalani perawatan di puskesmas. (cem).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here