Rendah, Kontribusi Lakey Terhadap Penurunan Kemiskinan di Huu

Dompu (Suara NTB) – Manfaat keberadaan sektor pariwisata di Dompu belum sepenuhnya dirasakan masyarakat. Contoh kecilnya, wisata Lakey di Desa Huu Kecamatan Huu. Wisata laut yang terkenal dengan ombaknya yang mendunia itu rupanya belum berpengaruh signifikan terhadap peningkatan ekonomi masyarakat sekitar. Terutama, bagi ratusan kepala keluarga di Dusun Nanga Doro.

Dari 113 KK yang menetap di lingkar Lakey, hanya segelintir orang yang sudah merasakan manfaatnya. Dan kini, tidak ada satupun yang tersisa. Keterbatasan kemampuan dalam berbahasa menjadi kendala utama. Demikian ungkap Kadus Nanga Doro, Syamsul Ismail kepada wartawan di rumahnya, Kamis, 10 Mei 2018.

Iklan

“Hadirnya Lakey ini ada yang menikmati ada yang tidak juga, kenapa begitu? Di Nanga Doro ini hampir 100 persen belum ada yang bisa berbahasa (Inggris), sementara orang yang bekerja di sana harus pintar bahasa Inggris,” jelasnya.

Menurut pengalaman, beberapa warga yang sempat bekerja, kata Syamsul Ismail, peluang dan jaminan kerja di Lakey cukup menjanjikan. Namun, karena keterbatasan kemampuan berbahasa itu banyak warganya yang minder lalu keluar dan memilih bertani di ladang. Saat ini bisa dipastikan sudah tak ada satupun warga Nanga Doro yang bekerja di Lekey.

Inisiatif memberdayakan masyarakat lingkar Lakey dengan berbagai program pembinaan pun tak pernah dirasakan. Pemerintah terkesan lepas tangan dengan tetap membiarkan warga lingkar Lakey sebagai penonton.

“Kalau pembinaan dan pelatihan bahasa inggris dari pemerintah itu ndak pernah ada, syukur sekarang ada Carlos, turis dari Spanyol yang mau mengajar anak-anak bahasa Inggris,” ungkapnya.

Ketertinggalan dalam hal berbahasa asing ini semakin diperparah dengan melihat kondisi pendidikan warganya, yang mana dari ratusan KK yang menetap tak ada satupun yang melanjutkan jenjang pendidikan ke perguruan tinggi, rata-rata mereka hanya tamatan SMA dan tidak sedikit pelajar yang terpaksa putus sekolah.

Menurut Syamsul Ismail, sekitar 75 persen warga diwilayah ini tergolong kurang mampu. Sumber penghasilan utama warga hanya mengandalkan hasil pertanian musiman seperti jagung. Untuk menangkap ikan, dirasa sulit karena kendala gelombang yang besar. Tak heran kemudian jumlah penerima bantuan sosial tiap bulannya separuh dari jumlah KK yang ada.

“Kalau bantuan rastra kita 52 KK, memang jatah kita unggul dibanding dusun-dusun lain. Kenyataan juga di Nanga Doro ini tidak semua orang ada, bisa dibilang 75 persen itu orang tidak mampu,” pungkasnya. (jun)