Rencana Relokasi RSUD Sumbawa Terancam Molor

Sumbawa Besar (Suara NTB) – Relokasi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sumbawa sebagai salah satu program prioritas pemerintahan H. M. Husni Djibril B.Sc dan Drs. H. Mahmud Abdullah terancam molor. Pasalnya, paket pekerjaan belanja jasa konsultasi penelitian Feasibility Study (Study Kelayakan) sudah beberapa kali gagal tender, termasuk tahun ini. Padahal rencana relokasi yang harus dilalui membutuhkan proses dan tahapan yang panjang.

Informasi gagalnya proses tender Study kelayakan relokasi RSUD Sumbawa awalnya diperoleh Suara NTB dari Kepala Unit Layanan Pengadaan (ULP) Bagian APP Setda Sumbawa, Zulkifli. Pengerjaan FS yang sedianya tahun ini kembali gagal tender. Setelah tender terakhir tahun ini, tak ada satupun penyedia jasa konsultasi yang memasukkan berkas penawaran ke ULP. Hingga SKPD terkait perlu melakukan kajian kembali atas dokumen lelang yang mereka masukkan.

Iklan

Direktur RSUD Sumbawa, dr. Selvy yang didampingi Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Ahmad Fauzi menyebutkan penawaran FS rencana relokasi RSUD Sumbawa sudah dilakukan sebanyak tiga kali. Namun ketiga kalinya juga gagal tender. Pertama penawaran dilakukan pada 25 Februari 2016.

Namun berdasarkan surat dari ULP, hasil pembukaan penawaran seleksi sederhana terhadap paket FS pembangunan RSUD Sumbawa dinyatakan gagal. Alasannya dari 13 calon penyedia yang mendaftar hanya satu yang mengisi form isian elektronik data kualifikasi dan tidak ada penyedia yang mengunggah/upload dokumen penawaran.

Penawaran berikutnya dilakukan pada 19 Mei 2016. Berdasarkan surat yang dikembalikan, penawaran tersebut juga gagal. Alasannya tidak ada yang mendaftar. Begitu pula penawaran ketiga yang dilakukan pada 1 Juni 2016. Pihak rumah sakit mendapat surat pengembalian pada September lalu. Di mana penawaran gagal ditender.

“Sudah tiga kali gagal ditender,” ujarnya.

  PPK Pembangunan IGD Baru RSUD Sumbawa Diperiksa Polisi

Dijelaskannya, awalnya sempat disampaikan gagalnya tender kemungkinan lantaran tidak tersedianya tim ahli yang diajukan pihaknya. Dimana pihaknya mengajukan lulusan S2. Pihaknya pun menurunkan untuk penawaran lulusan tim teknis ahli lulusan S1. Penawaran tersebut juga gagal.  Begitupula penawaran ketiga yang dilakukan.

“Waktu konfirmasi ke ULP alasannya gagal ditender karena tidak ada yang mendaftar. Tidak disebutkan alasan lain. Artinya tidak ada yang memastikan bahwa gagal itu umpamanya ada yang menyatakan atau melakukan penawaran kok murah harganya, bisa lebih tinggi ndak. Atau mungkin kok ketinggian tim teknisnya. Atau mungkin kontraknya itu terlalu cepat waktunya, bisa enggak lebih lama umpamanya enam bulan. Tidak ada yang seperti itu,” jelasnya.

Pagu anggaran untuk paket pekerjaan belanja jasa konsultasi penelitian FS rencana relokasi RSUD Sumbawa Rp 198 juta. Rencana lokasi yang ditunjuk ada beberapa tempat. Yakni pertama di wilayah Samota, kedua di wilayah Kecamatan Moyo Hulu, ketiga di wilayah BTN Pukit Permai, dan keempat di lokasi yang cocok dengan RT/RW. Minimal lahan 3 hektar.

“Kami sudah bersurat ke Bappeda untuk bagaimana perencanaan selanjutnya. Apakah ada alternatif lain,” pungkasnya. (ind/arn)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here