Rencana PTM Penuh, Penerapan Prokes Tidak Boleh Diabaikan

PTM terbatas di SMPN 3 Mataram dengan penerapan prokes.  Tampak siswa sedang mencuci tangan sebelum masuk areal sekolah. (Suara NTB/ist)

Melandainya kasus Covid-19 di Kota Mataram menjadi salah satu pertimbangan Pemkot Mataram akan menerapkan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) penuh di seluruh sekolah. Bahkan, pihak sekolah menyambut baik rencana pemerintah ini, karena para siswa dianggap sudah sangat merindukan keadaan normal untuk menuntut ilmu. Namun, dalam menjalankan PTM penuh, protokol kesehatan (prokes) di sekolah tidak boleh diabaikan.

KEPALA SMPN 3 Mataram, Suherman menyebut, PTM secara penuh atau normal merupakan sebuah keniscayaan yang harus dipenuhi bila keadaan sudah kondusif, aman, dan tidak ada perasaan khawatir berlebih jika Covid-19 sudah menjadi endemi. Meski demikian, semua pihak tidak boleh merasa lengah. Dalam hal ini, prokes harus tetap dijalankan.

Iklan

“Bahkan diharapkan pembelajaran tatap muka sebagai sebuah pembiasaan, para orang tua, guru, terkhusus para siswa sangat rindu dengan keadaan normal untuk menuntut ilmu, tanpa harus ada perasaan cemas,” jelas Suherman, Rabu, 1 Desember 2021.

Sementara untuk persiapan PTM penuh, pihaknya sudah menyiapkan sarana dan prasarana prokes. Selain itu, pihaknya juga merancang jadwal pelajaran, menyosialisasikan ke siswa. “Serta kesiapan guru dan tenaga kependidikan, salah satunya mereka sudah divaksin,” ujarnya.

Suherman mengatakan, untuk saat ini, pembelajaran di SMPN 3 Mataram menggunakan kurikulum darurat Covid-19. Artinya, PTM dilaksanakan terbatas dengan pengaturan sif untuk setiap jenjang kelas, sehingga siswa masuk sekolah sesuai dengan jadwal yang sudah ditetapkan pihak sekolah.

Sebelumnya, Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kota Mataram, Drs. H.L. Kaharudin mengatakan, jika pembelajaran penuh akan dilaksanakan di Kota Mataram, maka semua pihak harus menjadi kondisi yang sudah relatif baik saat ini.

Dinas Pendidikan Kota Mataram, tambahnya, harus terus memberikan arahan dan bimbingan ke sekolah untuk menjaga ketersediaan sarana pendukung. “Serta melengakapinya jika saat ini ada yang perlu dilengkapi dan ditambah,” sarannya.

Kaharudin juga menyarankan, Dinas Pendidikan bisa menugaskan pengawas sekolah untuk mengontrol hal tersebut. Pihak sekolah harus terus menerus menjalin komunikasi yang baik dengan komite sekolah dan orang tua atau wali murid, agar semua pihak disiplin sesuai dengan tugas masing-masing.

“Sekolah harus terus mengaktifkan petugas-petugas yang telah dibentuk oleh sekolah agar semaksimal mungkin tugas pencegahan itu dilaksanakan oleh seluruh warga yang ada di sekolah,” saran Kaharudin.

Tidak kalah pentingnya, kata Kaharudin, bahwa kepala sekolah dan guru harus memberikan arahan, peringatan serta pesan kepada peserta didik agar tetap memperhatikan langkah-langkah pencegahan, seperti cuci tangan, pakai masker dari rumah, jaga jarak di mana pun berada.

“Orang tua murid juga harus menyiapkan masker bagi putra dan putrinya, mengantar dan menjemput pada waktu yang tepat, sehingga tidak terjadi kerumunan,” pungkasnya.

Abdullah, salah satu orang tua murid di Kota Mataram tidak mempermasalahkan, jika sekolah menerapkan PTM penuh pada siswa pada tahun 2022 mendatang. Meski demikian, sebagai orang tua, dirinya sangat mengharapkan pihak sekolah tetap konsisten menerapkan prokes ketat saat siswa datang, berada di sekolah hingga pulang sekolah.

Dirinya melihat banyak sekolah di Kota Mataram yang mulai abai dengan prokes, karena tidak konsisten menerapkan apa yang menjadi ketetapan pemerintah. Sebagai contoh, saat kasus mulai melandai sekarang ini, banyak murid atau siswa yang tidak menggunakan masker, tidak menjaga jarak. Termasuk tidak lagi menyiapkan fasilitas untuk mencuci tangan.

Untuk itu, jika pemerintah ingin menerapkan PTM secara penuh di sekolah di Mataram, maka pemerintah harus rajin keliling melakukan pemeriksaan ke sekolah, apa tetap konsisten menerapkan prokes atau tidak. Penerapan prokes di sekolah saat PTM penuh setidaknya menghilangkan kekhawatiran anak-anak terjangkit Covid-19.

Harapan senada disampaikan Amaq Idyanul. Sebagai orang tua siswa, dirinya tidak masalah jika pemerintah menerapkan PTM penuh di sekolah. Namun, jika pemerintah menetapkan PTM penuh, maka penerapan prokes secara ketat harus dilakukan. ‘’Kita juga khawatir anak-anak kita terjangkit Covid-19. Apalagi di televisi diberitakan ada varian baru yang katanya lebih berbahaya dari varian sebelumnya. Jangan sampai nanti PTM penuh ini menjadi klaster baru penyebaran Covid-19,’’ ujarnya. (ron/ham)

Advertisement