Relawan Gunakan Pelindung Mantel, Beli Cairan Hasil Jualan Kopi

0
Relawan GR10000 melakukan penyemprotan disinfektan berbekal APD seadanya. (Suara NTB/ari)

Tanjung (Suara NTB) – Gerak cepat penanganan penyebaran virus Corona sudah mulai dilakukan pemerintah dan relawan. Pemerintah sudah mulai memberlakukan sejumlah aturan (meski tidak semua dipatuhi, misalnya ibadah Salat Jumat). Sebaliknya relawan mulai turun ke lapangan walaupun tanpa dukungan ADP (Alat Pelindung Diri).

Seperti yang sudah dilakukan relawan/komunitas GR 10000 Lombok Utara bersama Komunitas Kaum Kusam. Para personelnya berpartisipasi aktif menyemprot disinfektan anti virus berbekal mantel (jas hujan). Bahkan ada pula yang hanya menggunakan pakaian sehari-hari yang biasa digunakan.

IKLAN

“Kami bergerak atas kesadaran untuk sama-sama mencegah penyebaran virus di KLU. Sampai hari ini sudah ada 30-an titik yang sudah kami semprot dari Pemenang sampai Bayan,” ujar Ketua Komunitas Gerakan Rakyat (GR) 10000, H. Bimbo Asmuni, Jumat, 27 Maret 2020.

Anggota GR kata dia bergerak dengan sumber daya seadanya. Hasil penjualan Kopi GR digunakan untuk membeli cairan disinfektan, tangki air, sepatu boot, dan masker.

GR dibantu oleh Klinik Waringin milik dr. H. L. Bahrudin – Kepala Dikes KLU berupa ambulans sebagai alat transportasi. “Kami juga dibantu donatur, tidak kami sebutkan. Beliau membelikan kami dua unit alat fogging,” ujarnya.

Hingga hari ini, seluruh tim relawan GR yang bergerak masih dengan alat seadanya. GR belum mampu membeli APD standar sebagaimana SOP yang diterapkan pemerintah. ‘’Kami sadar untuk membeli itu, butuh uang. Saya juga masuk di tim Satgas, tapi dukungan alat (APD) sampai sekarang belum ada.”

Terpisah, Kasubag Program – Dikes KLU, Husnul Habib, menyebut berdasarkan pendataan Dikes, setidaknya terdapat 1.300 titik fasilitas umum baik kantor instansi, pasar, tempat ibadah, dan fasilitas sosial yang harus disemprot. Lingkungan sekolah saja terdapat 380-an unit.

“Tempat-tempat itu perlu disemprot disinfektan oleh Satgas. Dan untuk diketahui, dana itu belum termasuk transportasi dan honor petugas,” sambungnya.

Dikes khawatir terjadi keterlambatan pengadaan, sehingga akan membahayakan petugas, baik perawat dan dokter puskesmas. “Screening di Bangsal saja masih seadanya. Kami butuh masker, APD juga belum ada. Yang paling sulit pengadaannya masker N95,” tambah Habib. (ari)