Rekonstruksi Rumah Korban Gempa Berjalan Lambat

Seorang warga mengecat rumah instans sederhana sehat (Risha) miliknya yang sudah rampung. (insert) rumah instans konvensional (Riko) di Lingkungan Pengempel Indah, Kelurahan Bertais yang sebagian besar belum rampung. Pokmas terkendala suplai material. (Suara NTB/cem)

Mataram (Suara NTB) – Percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi rumah korban pascagempa berjalan lambat. Sampai saat ini, kelompok masyarakat (Pokmas) masih kesulitan material bangunan. Sementara tenggat waktu yang diberikan harus tuntas pada Februari mendatang.

Ketua Pokmas Patuh Angen, Fadil menuturkan, pihaknya sampai saat ini masih kesulitan dengan bahan material. Bahan yang dipesan harus menunggu seminggu. Keterlambatan pendistribusian menghambat pekerjaan. “Selain bahan mahal, juga materialnya sulit,” tutur Fadil ditemui, Selasa, 8 Januari 2019.

Iklan

Pokmas Patuh Angen memiliki sebelas anggota. Rata – rata memilih rumah instans konvensional (Riko). Minimnya pasokan tutur Fadil, menyebabkan pekerja harus pindah bekerja ke tempat lain. “Tukang ada, tapi dipindah ke tempat lain,” tambahnya.

Selain faktor bahan, pengerjaan Riko terhambat oleh cuaca. Pekerja membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikan satu unit rumah. Ditambah, penyesuaian terhadap pondasi rumah.

Terkait penggunaan anggaran rehabilitasi dan rekonstruksi harus habis rampung akhir Februari mendatang, Fadil mengakui, pernah mendapatkan informasi. Pihaknya bergegas memesan barang dengan harapan sebagain besar rumah warga bisa selesai dikerjakan.

“Iya, tergantung tukang aja. Mudah – mudahan bisa selesai,” harapnya. Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman Kota Mataram, H. Kemal Islam mengatakan, progres pembangunan rehabilitasi dan rekonstruksi telah berjalan dengan bagus. Kata dia, tidak ada persoalan berarti seperti sebelumnya.

Kalaupun ada hanya pengangkutan material.

“Memang Pemkot Mataram itu berniat membantu masyarakat percepat pembangunan termasuk pengangkutan panelnya,” kilah Kemal. Permasalahan lain dihadapi seperti keberadaan tukang yang diharapkan aplikator menyediakan tukang secara langsung, tetapi tidak bisa. Hanya beberapa aplikator menyediakan tapi jumlahnya terbatas.

Namun demikian, pihaknya telah mengambil langkah cepat dengan melatih masyarakat memasang panel Risha. “Kita ada enam kelompok yang bisa pasang panel Risha. Artinya, kita hanya dapat pasang enam rumah per hari,” jelasnya.

Secara keseluruhan hampir 300 panel Risha telah masuk ke Pokmas. Dan, ini dalam proses pemasangan. Artinya, pemenuhan panel Risha mencapai 60 persen.

Terkait target penggunaan dana rehab harus tuntas sampai akhir Februari mendatang, Kemal meyakini khusus Risha bisa tuntas. Akan tetapi dia tak berani menjamin terhadap pengerjaan rumah instans konvensional (Riko).

Pokmas memiliki hambatan di lapangan. Namun, masyarakat sedang mencairkan anggaran. “Mudah – mudahan bisa selesai,” demikian harapnya. (cem)