Rekonstruksi Kasus OTT Dana Bencana Temukan Fakta Baru

Proses rekonstruksi tertutup di Warung Encim, Jalan Rajawali Cakranegara. (Suara NTB/ars)

Mataram (Suara NTB) – Penyidik Kejaksaan Negeri Mataram menggelar rekonstruksi Operasi Tangkap Tangan (OTT) tersangka HM Selasa, 2 Oktober 2018 kemarin di TKP Jalan Rajawali Cakranegara Mataram. Selain menggali berdasarkan Berita Acara Pemeriksaan  (BAP), rekonstruksi juga menemukan fakta baru peran orang lain.

Proses rekonstruksi berlangsung pukul 10.30 Wita di TKP penangkapan, Warung Encim, tempat pertemuan tersangka dengan dua saksi. Jaksa menghadirkan langsung tersangka HM, didampingi pengacaranya Burhanudin, SH dan Ernadi, SH. Hadir memimpin reka ulang itu  Kasi Intelijen Agus Taufikurrahman, SH bersama sejumlah timnya. Hadir dua saksi, mantan Kadisdik Kota Mataram Sudenom dan kontraktor Catur Totok Hadianto.

Iklan

Dijelaskan Kajari Mataram, Dr. I Ketut Sumedana, SH.,MH, ada tujuh adegan yang dilakukan rekonstruksi.  Semua rekonstruksi sesuai dengan proses OTT Jumat, 14 September 2018 lalu. ‘’Hasil rekonstruksi itu, kami temukan fakta baru yang ada hubungannya dengan pemeriksaan hari ini (kemarin),’’ kata  I Ketut Sumedana.

Dua saksi tambahan yang diperiksa itu pengacara Mochtar M Saleh, SH.,MH dan Hijrat Prayitno, SH. Keduanya diketahui adalah pengacara Sudenom dalam kasus lain, terkait dugaan pungutan liar (pungli) kepala sekolah senilai Rp 150 juta.

Menurut Kajari, keduanya dianggap mengetahui rangkaian peristiwa sebelum OTT dilakukan.  “Yang namanya saksi, tentu dia mendengar, mengetahui, merasakan,” ujarnya.

Hanya saja Kajari enggan membuka peran  kedua pengacara tersebut. Ia hanya menjelaskan posisinya sebagai saksi dalam perkara HM.  ‘’Kedua pengacara ini memang pengacaranya Sudenom  dalam kasus lain (Pungli Kepsek). Tapi mereka diperiksa dalam kasus OTT ini,’’ jelasnya.

Terkait fakta baru dan hubungan dengan pemeriksaan pengacara tersebut, belum bisa dibukanya.  “Nanti akan kita buka di persidangan,” ujarnya  singkat.   Sementara Muchtar M Saleh dan Hijrat hingga siang kemarin  dimintai keterangan di ruangan penyidik Pidsus Kejari Mataram.

Tujuh Adegan

Suasana rekonstruksi berlangsung tegang. Tersangka tidak saja datang didampingi pengacara. Puluhan pendukungnya mengawasi dari jarak beberapa meter. Mereka berkumpul di sekitar Warung Encim.  Untuk mengantisipasi gangguan, pasukan Dalmas Polres Mataram dikerahkan untuk mengamankan jalannya rekonstruksi yang berlangsung tertutup di warung.

Adegan pertama, tersangka HM duduk di kursi pojok warung, menghadap pintu masuk warung. Di depannya, dua saksi Kadisdik Sudenom dan Catur Totok Hadianto selaku kontraktor.

Adegan paling substantif dari proses hukum itu pada bagian keempat, ketika  saksi Catur menyerahkan amplop berwarna cokelat kepada tersangka HM.

‘’Dalam adegan ke empat itu terungkap adanya penyerahan dan penerimaan uang dari saksi Catur Totok kepada tersangka HM. Itu semua sudah sesuai dengan keterangan saksi di lokasi rekonstruksi,” kata Kajari Mataram I Ketut Sumedana.

Selanjutnya, proses OTT Kejaksaan muncul pada adegan terakhir atau reka ulang ke tujuh. Ketika  tim Kejaksaan kuncul dan langsung menunjuk tersangka HM yang dilihat melempar amlop cokelat tersebut kepada saksi Catur Totok.

‘’Dalam adegan ke tujuh itu tersangka tertangkap tangan mengembalikan amplop dengan cara melemparnya ke saksi Catur Totok,’’ ujarnya.

Tim pengacara tersangka mengamati detail proses reka ulang. Mereka menyangkal beberapa adegan yang dianggapnya janggal. Tersangka melalui tim pengacaranya langsung memberi penjelasan soal sanggahannya.

‘’Rekonstruksi yang digelar pihak Kejaksaan tersebut sudah tidak sesuai dengan keterangan klien saya. Dari adegan yang ditampilkan tadi, klien kami mengaku tidak pernah menerima amplop uang dari saksi Catur Totok. Memang dia disodorkan amplop uang, tapi tidak diambilnya,” kata Burhanudin.

Sebab itu, Burhanudin menilai rekonstruksi yang digelar Kejaksaan tersebut tidak sah. Ia meminta reka ulang digelar sesuai isi permohonan dalam sidang praperadilan.

‘’Itu kan versi Kejaksaan, kita klaim itu tidak sah. Makanya kita ajukan praperadilan, dan meminta hakim untuk menggelar ulang rekonstruksinya dan mengacu dari fakta persidangan.’’

Sementara Kajari Mataram menanggapi santai komentar tim kuasa hukum tersangka. “Yang keberatan kan pengacaranya, bukan tersangka,” jawabnya. (ars)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional