REI Pertanyakan Detail Tata Ruang Kota Mataram

Mataram (Suara NTB) – Izin-izin pembangunan kawasan perumahan yang ditahan Pemkot Mataram menjadi tanda tanya bagi kalangan pengembang. Real Estate Indonesia (REI) Provinsi NTB mempertanyakan kebijakan perlindungan lahan abadi di ibukota provinsi ini.

Ketua REI NTB, H. Miftahuddin Ma`ruf, sudah menyampaikannya agar pemerintah kabupaten/kota membuat detail tata ruang. Karena itu menjadi sangat penting bagi pengembang untuk mengikuti aturan.

Iklan

Tata ruang telah dimiliki kabupaten/kota, tapi tidak tercantum detailnya. Sehingga pengembang mengaku kesulitan dalam rangka pembebasan lahan.

”Ada satu ketentuan di  Kota Mataram, bahwa ada daerah pengembangan pemukiman terbatas. Itu ada istilah di kota, tapi tidak dijelaskan kawasan pembangunan pemukiman yang seperti apa, tidak ada yang menjelaskan. Sehebat apapun satu kota kalau dia tidak punya RDTR, itu tidak baik,” ujarnya.

Ditemui di kantornya, Jumat, 31 Maret 2017, H. Miftahuudin Ma`ruf mengatakan, pengembang juga tak melihat adanya master plan di Kota Mataram, kedepan akan dijadikan apa kawasan-kawasan di Kota Mataram ini.

Karena itulah, akibatnya lahan yang tadinya dikatakan lahan hijau dan lahan abadi, dalam satu dua tahun kedepan dapat berubah menjadi lahan-lahan beton. Dengan kata lain lahan abadi tersebut akan tergusur.

“Saat ini misalnya dikatakan jalur hijau, tapi lihat setahun dua tahun, dia akan berubah, karena detail tata ruangnya tidak ada,” imbuhnya.

Meskipun pengembang tidak bisa berbuat banyak ketika Pemkot Mataram menahan izin-izin pembangunan kawasan perumahan dengan alasan melanggar tata ruang, harusnya Pemkot Mataram juga memberikan kepastian tata ruang.  Umumnya kabupaten/kota tidak memiliki tata ruang yang jelas, sehingga tata ruang yang ada saat ini tidak bisa dijadikan acuan pasti.

“Ketika izin-izin pembangunan kawasan ditahan, otomatis investasi mandek. Rugi bagi pengembang, rugi bagi daerah keran tidak tercipta multiflier efek yang baru dari pembangunan sebuah kawasan,” kata H. Ma`ruf.

Karena tidak ada kepastian inilah, tak heran pula  pengembang menyasar lahan-lahan yang dikatakan potensial pertanian atau lahan yang dikatakan abadi. (bul)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here