Realisasi KUR di NTB Tembus Rp2,7 Triliun

Syarwan. (Suara NTB/nas)

Meskipun di tengah pandemi Covid-19, realisasi penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) di NTB menembus angka Rp2,7 triliun lebih sampai 30 September 2020. Angka ini tumbuh sebesar 9,34 persen dibandingkan realisasi penyaluran KUR pada periode yang sama tahun 2019 sebesar Rp2,47 triliun.

Kepala Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPB) NTB, Syarwan, S.E., M.M., mengatakan, Pemerintah Pusat telah mendorong perbankan untuk bergerak membantu UMKM di tengah pandemi. Dalam program pemulihan ekonomi nasional (PEN), Pemerintah memberikan subsidi bunga KUR dan non KUR.

Iklan

‘’Memang sudah digalakkan oleh pemerintah dan perbankan juga kita minta bergerak. Kita jelaskan, ekonomi kita sedang lemah. Sementara untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi itu harus menggerakkan UMKM,’’ kata Syarwan di Kantornya, Kamis, 8 Oktober 2020.

Disebutkan, lewat program PEN, Pemerintah Pusat memberikan subsidi bunga KUR sebesar Rp28,84 miliar kepada 89.730 nasabah. Sedangkan subsidi bunga non KUR sebesar Rp569 juta kepada 4.973 nasabah di NTB.

Ia merincikan, sebesar Rp2,7 triliun KUR yang telah disalurkan di NTB, untuk usaha kecil sebesar Rp765,2 miliar, usaha mikro Rp1,84 triliun, supermikro Rp17,691 miliar, KUR TKI Rp10,7 miliar dan ultra mikro sebesar Rp57,11 miliar.

‘’Dalam rangka penanggulangan pandemi Covid-19, terdapat skema KUR supermikro dengan realisasi mencapai Rp17,69 miliar,’’ sebutnya.

Ia menyebut realisasi KUR di masing-masing kabupaten/kota di NTB, ada yang tumbuh positif dan tumbuh negatif jika dibandingkan tahun lalu. Realisasi KUR yang tumbuh negatif terdapat di Lombok Barat, minus 1,91 persen. Sampai 30 September 2020, realisasi KUR di Lombok Barat sebesar Rp251,7 miliar, turun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp256,59 miliar.

Selain itu, realisasi KUR juga tumbuh negatif di Kota Mataram, yaitu minus 2,06 persen. Hingga September 2020, realisasi KUR di Kota Mataram sebesar Rp254,5 miliar, turun dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp259,8 miliar.

Sedangkan realisasi KUR di delapan kabupaten/kota lainnya tumbuh positif. Seperti Bima, tumbuh sebesar 14,72 persen, dari Rp320,8 miliar pada September tahun lalu, menjadi Rp368,09 miliar pada September 2020. Dompu tumbuh sebesar 5,88 persen, dari Rp156,12 miliar menjadi Rp165,29 miliar.

Lombok Tengah tumbuh sebesar 0,24 persen, dari Rp381,53 miliar menjadi Rp382,45 miliar. Lombok Timur tumbuh sebesar 4,44 persen, dari Rp484,03 miliar menjadi Rp505,53 miliar.

Pertumbuhan realisasi KUR tertinggi di Lombok Utara sebesar 108,41 persen. Dari Rp43,28 miliar menjadi Rp90,2 miliar. Selanjutnya, Sumbawa tumbuh sebesar 17,57 persen, dari Rp447,41 miliar menjadi Rp526,03 miliar.

Sumbawa Barat tumbuh sebesar 22,97 persen, dari Rp69,4 miliar menjadi Rp85,34 miliar. Dan Kota Bima tumbuh sebesar 41,31 persen, dari Rp50,43 miliar menjadi Rp71,27 miliar.

Syarwan mengatakan banyak potensi yang ada di NTB. Sehingga perlu dukungan permodalan bagi UMKM untuk bangkit di tengah pandemi melalui pemberian bantuan permodalan lewat KUR.

Meskipun kondisi perekonomian masih lesu, pihaknya yakin, masyarakat masih memiliki kemampuan untuk membayar kredit tersebut. “Kemampuan untuk membayar itu ada. Dan pemerintah banyak menggelontorkan bantuan kepada UMKM,” tandasnya. (nas)

Advertisementfiling laporan pajak Jasa Pembuatan Website Profesional