Reaksi Warganet Atas Penembakan Terduga Teroris di Bima

Mataram (suarantb.com) – Penembakan dua terduga teroris di Bima menuai beragam komentar dari warganet, termasuk kecaman pada aparat kepolisian yang melakukan penembakan.

Menurut pantauan di laman Facebook suarantb.com, Selasa, 31 Oktober 2017 dari puluhan komentar warganet, umumnya berisi kritikan pada pihak kepolisian.

Iklan

Kecaman tersebut diantaranya diutarakan akun Rachman Sasaku. “Bukti kegagalan kepolisian, rakyat sendiri baru terduga dah dihabisin…. semoga Kedepan kinerja Kepolisian lebih baik dan Bisa dipercaya lg sama masyarakat,” tulisnya.

“Terduga langsung tewas. Koruptor jelas ga tewas,” komentar Mahridin Amin.

“Lebih puas ngilangin nyawa manusia tanpa dihukum Jul, dapet bonus dan penghargaan krn bunuh teroris?? *inget kejadian sedan maut yg dbrondong peluru karena diduga *yaaah diduga lagi* pelaku kejahatan itu kan haha,” tambah akun Defuri Ramadhani.

Selain kecaman, ada pula warganet yang menyambut positif aksi penembakan tersebut. “Kalo benar teroris alhamdllah….. meresahkan warga negara indonesia dan dunia,” kata akun Antok Kedhua.

Diketahui, dua terduga teroris tewas dalam kontak senjata di pegunungan Mawu Rite, perbatasan antara Kecamatan Asakota, Kota Bima dengan Ambalawi, Kabupaten Bima, Senin, 30 Oktober 2017.

Wakapolda NTB, Kombes Pol Tajuddin mengonfirmasi, dua terduga teroris yang belum diungkap identitasnya itu dipastikan tewas dalam kontak senjata.

“Ada kontak senjata Densus 88 dibantu Polda NTB dan Polres Bima Kota dengan kelompok teroris. Dua orang tewas,” ujarnya dikonfirmasi di Mapolda NTB.

Dua orang dimaksud, lanjut dia, dipastikan anggota kelompok teroris. Namun ia belum dapat menjelaskan lebih detail mengenai identitas para terduga pelaku tersebut.

“Yang jelas, kepolisian melakukan tindakan didasari pada bukti-bukti yang kuat. Tidak bisa sembarangan. Itu kelompok teroris,” terangnya.

Kontak senjata tersebut terjadi sekitar pukul 09.50 Wita di pegunungan Mawu Rite, perbatasan antara Kecamatan Asakota, Kota Bima dengan Ambalawi, Kabupaten Bima, Senin, 30 Oktober 2017. (ros)