Ratusan Sampel Pasien Covid-19 Diperiksa Setiap Hari

Laily Indrayanti Y. (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Pengujian mandiri spesimen pasien virus corona (Covid-19) di NTB terus dilakukan. Hal tersebut ditujukan untuk memperoleh kepastian dengan segera kasus-kasus yang terkonfirmasi positif.

Kepala Instalasi Laboratorium Biomedik RSUD Provinsi NTB, dr. Laily Indrayanti Y, menerangkan pihaknya dapat memeriksa 90-140 sampel swab pasien dari rumah sakit rujukan yang ada. Hingga Senin, 25 Mei 2020, pihaknya telah memeriksa 3718 sampel swab pasien.

Iklan

“Sampel kita terima dari rumah sakit-rumah sakit yang merujuk, kemudian kita cek apakah sampel ini dalam keadaan baik dan layak untuk diperiksa,” ujar Laily saat dikonfirmasi, Minggu, 17 Mei 2020.

Dalam pemeriksan spesimen pasien, Laboratorium Biomedik RSUD NTB melibatkan 6 orang tenaga pemeriksa untuk 2 sif kerja. Diterangkan Laily pihaknya akan segera menambah 2 orang tenaga pemeriksa untuk memaksimalkan pengujian setiap harinya.

Masing-masing tenaga pemeriksa tersebut setiap harinya mengecek kelengkapan formulir permintaan dari masing-masing rumah sakit rujukan. Formulir tersebut berisi identitas pasien.

Setelah itu, sampel-sampel yang diperiksa diberikan nomor urut untuk menungu pemeriksaan Reverse Transcription – Polymerase Chain Reaction (rt-PCR). “Pemeriksaan rt-PCR mulai dari preparasi sampai pemeriksaan sendiri membutuhkan waktu 6-9 jam. Tergantung antrian sampel hari itu,” ujar Laily.

Kendati demikian, hasil yang sudah keluar tetap membutuhkan verifikasi dan validasi terlebih dahulu sebelum benar-benar siap diserahkan ke Dinas Kesehatan (Dikes) NTB untuk diumumkan. Untuk itu, satu orang Pasien Dalam Pengawasan (PDP) Covid-19 melewati dua kali uji swab laboratorium dengan sampel yang berbeda-beda.

Kondisi sampel sendiri diharusnya dalam kualitas yang baik untuk memberikan hasil uji dengna ketepatan yang tinggi. Diantaranya harus berada di suhu 2-8 derajat celcius. Beberapa kendala menurutnya sering ditemukan untuk sampel dari rumah sakit yang jaraknya jauh dari RSUD NTB.

“Transportasi dan media yang digunakan apakah sudah sesuai untuk virus. Terkadang juga ada sampel yang kemungkinan bahan swabnya kurang baik, sehingga bisa terurai di dalam cairan VTM-nya (Virus Transport Media),” ujar Laily.

Di sisi lain, untuk pemeriksaan sampel seorang PDP sampai dengan dinyatakan positif dan negatif membutuhkan anggaran sebesar Rp 1-1,5 juta. Terutama untuk 1 kali tes rt-PCR dengan reagen dan bahan habis pakai (BHP) lainnya.

Jumlah reagen di NTB sendiri disebutnya masih cukup sampai saat ini. Mengingat pengiriman stok terus dilakukan, baik dari pemerintah pusat melalui kementerian, penyediaan oleh pemerintah daerah sendiri, maupun dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Mengingat tenaga pemeriksa di laboratorium harus berurusan langsung dengan sampel pasien, Laily menyebut kekhwatarian tertular juga menghantui pihaknya. “Kekhawatiran itu pasti ada, apalagi kami yang mengambil swab di organ sumber penularan dan memprosesnya sehingga menjadi hasil (data) yang bisa disajikan,” ujarnya.

Kendati demikian pihaknya terus meyakinkan seluruh tenaga pemeriksa yang ada agar tetap yakin dalam menjalankan tugas. Salah satunya dengan mewajibkan penggunaan APD sesuai standar kesehatan yang berlaku.

“Kita tetap berikan pengertian (ke tenaga pemeriksa) untuk melayani, karena ini tugas sebagai tenaga kesehatan. Tidak semua orang bisa mendapatkan kesempatan mengamalkan imu dan tenaganya saat masyarakat sangat membutuhkan,” ujar Laily. (bay)