Ratusan Hektare Padi dan Jagung Terancam Kekeringan

Sumbawa Besar (Suara NTB) – Areal persawahan pada beberapa wilayah di Kabupaten Sumbawa kini terancam kekeringan. Bahkan, sudah ada sekitar puluhan hektare tanaman padi dan jagung pada musim tanam MK II ini yang berada di ambang puso. Akibat ketersediaan air yang makin menipis.

Sebagaimana disampaikan Sekretaris Dinas Pertanian Kabupaten Sumbawa, Ir Abdul Murad M.M, Rabu , 6 Juni 2018. Laporan yang diterimanya dari petugas kecamatan, sejauh ini ada lima kecamatan yang terancam kekeringan, yakni 45 hektare di kecamatan Moyo Hilir (30 hektare padi dan 15 hektare jagung), 25 hektare di kecamatan Alas (padi), 50 hektare di kecamatan Utan (jagung), 15 hektare di kecamatan Lape (padi) dan 20 hektare di kecamatan Pelampang (padi). Sehingga ada total 155 hektare yang terancam kekeringan.

Iklan

Selain lima kecamatan tersebut, ada pula areal padi yang puso seluas 4 hektare di antara desa Baru dan desa Penyaring. Ditambah 24 hektare yang terancam puso kalau pada akhirnya tidak ada penyelamatan air. “Kalau kondisi kekeringan ini berlanjut, maka kemungkinan yang 24 hektare di Moyo Utara juga akan puso,” terang Murad.

Kondisi ini menurut Murad, dikarenakan anomali perubahan iklim. Dimana curah hujan sangat rendah, sehingga bendungan tidak maksimal mampu menyuplai air sebagaimana biasanya. Sehingga mengakibatkan tanaman mengalami kekeringan. Berdarkan pengalaman ini, maka Distan akan mengintensifkan dan mengkoordinasikannya engan pihak BMKG untuk mengetahui ramalan cuaca. Untuk dapat disesuaikan dengan rencana tanam kedepan. Untuk lokasi lokasi yang rawan kekeringan akan diarahkan pada tanaman paliwija, seehingga petani tidak dirugikan.

Selain itu, pihaknya juga akan melakukan identifikasi potensi program apa yang tepat untuk diluncurkan kedepan. Seperti sumur dalam dan cekdam yang dapat menampung air di musim hujan untuk dapat dimamfaatkan di msuim tanam berikutnya.

Seperti yang telah diberitakan Suara NTB sebelumnya, debit air salah satu bendungan besar di Sumbawa, Batu Bulan mulai menipis. Bahkan levelnya sudah mendekati angka kritis. Kondisi ini bisa mengancam lahan pertanian pada Musim Tanam (MT) II tahun ini. Penggunaan air mesti efektif dan mengurangi kebocoran air.

Kasi Operasi Pemeliharaan Sungai dan Bendung Kantor Pengairan Sumbawa, M. Saleh, menyebutkan stok air bendungan telah mendekati level kritis pada angka 52 meter. Sehingga otomatis debit air makin berkurang di musim kemarau ini. “Ketersediaan air makin berkurang setiap tahunnya, karena kondisi hutan di hulu bendungan yang mulai habis,” cetusnya.
Dengan stok air yang ada, maka harus ada perubahan pola tanam. Belum lagi kemungkinan adanya pelompong liar (kebocoran) dengan tingkat pemakaian air yang tidak ada batasnya.

“Kondisi jaringan irigasi tidak ada masalah. Hanya kadang ada kebocoran air akibat ulah oknum warga. Ini yang harus diminimalisir, agar pemakaian air menjadi efektif dan efisien,” tukasnya, seraya berharap kedepan kerusakan hutan bisa ditangani. Jangan kemudian terus dirusak tanpa ada upaya perbaikan. Sebab kalau kondisi hutan terus dibiarkan rusak, maka tak mustahil ancaman ketersediaan air juga semakin lama semakin berkurang. (arn)