Ratusan Hektar Tambak Garam di Tarano Belum Dikelola Optimal

Sumbawa Besar (Suara NTB) – Camat Tarano, Abdul Haris menyebutkan, sekitar 800 hektar luas areal tambak garam yang dikelola masyarakat di wilayahnya sampai saat ini belum terkelola secara baik. Tak heran kalau kualitas garamnya rendah sehingga harganya pun rendah kalah bersaing dengan garam dari Bima.

“Memang selama ini ada belasan kelompok Program Usaha Garam Rakyat (PUGAR) yang sebagaian mengelola tambak garam tersebut. Namun belum dikelola secara baik. Kualitasnya rendah sehingga kalah bersaing denggan garam Bima. Bayangkan harga jual per karung (isi 50 kg) hanya Rp 30 ribu,” terang Haris, Minggu (4/12).

Iklan

Bahkan ironisnya, masyarakat setempat termasuk pengusaha ubur – ubur di Tarano lebih suka menggunakan garam dari Bima yang teksturnya keras dan tahan lama. Sehingga, rencana masuknya PT. Kimia Farma yang akan membangun pabrik garam di Labuan Bontong disambut secara antusias oleh petani garam.

Masalahnya, sebagian tambak garam yang masuk dalam penguasaan lahan Hak Guna Usaha (HGU) PT Alam Raya. Meski sekarang ini masa waktu HGU sudah habis dan bisa dikatakan tanah telantar. Sayangnya belum ada sikap dari instansi berwenang (BPN NTB) yang menyatakan lahan tersebut telantar.

Dalam hal ini Pemkab Sumbawa, seperti yang pernah disampaikan Bupati Sumbawa, H. M. Husni Djibril, B.Sc, terkait rencana pembangunan Pabrik Garam, Bupati sudah menandatangani MoU dengan Kimia Farma yang menggandeng PT. Mandiri. “Saya sudah minta ke SKPD terkait untuk menyiapkan seluruh apa yang dibutuhkan investor. Feasibility Study (FS) yang mereka (Kimia Farma) danai sendiri harus bisa disiapkan perangkatnya dalam tempo paling lama dua bulan. Bappeda pun sudah menyanggupi itu,” tandas Bupati. (arn)

  Gempa 6,2 Skala Richter, Dua Warga Mataram Meninggal

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here