Ratusan Hektar Lahan Jagung di Desa Kokarlian Gagal Panen

Ilustrasi Jagung (suarantb.com/pexels)

Taliwang (Suara NTB) – Sekitar 112 hektar lahan jagung yang berada di desa Kokarlian, Kecamatan Poto Tano dinyatakan gagal panen di musim tanam kedua. Tidak adanya sumber mata air akibat kemarau panjang yang sejak bulan April lalu menjadi faktor utama. Bahkan gagal panen yang terjadi merupakan kali kedua setelah di musim tanam pertama juga mengalami hal yang sama.

“112 hektar lahan tersebut sudah masuk dalam kategori gagal panen (Puso) karena tidak ada sumber mata air yang bisa kita manfaatkan. Jumlah ini juga kita prediksi akan terus bertambah karena hujan yang tidak kunjung turun masih terjadi hingga saat ini,” ungkap Kades Kokarlian Anasrullah kepada Suara NTB, Selasa, 4 Agustus 2020.

Iklan

Tidak adanya sumber mata air yang bisa digunakan oleh para petani untuk mengairi lahan mereka menjadi faktor utama. Sehingga lahan tersebut tidak bisa diselamatkan, apalagi lahan di desa Kokarlian sifatnya tadah hujan. Kalaupun nanti dibantu mesin air, diyakini tidak akan memberikan dampak apapun karena sumber mata air yang tidak lagi tersedia. Akibatnya kini para petani jagung harus menanggung rugi hingga puluhan juta tergantung luas lahan yang dimiliki. ” Sejak tahun 2018 produksi jagung kami di desa Kokarlian terus turun dibandingkan tahun sebelumnya. Yang lebih parahnya lagi tahun ini kami sudah dua kali mengalami gagal panen karena musim kemarau,” sebutnya.

Untuk itu, pihaknya dalam waktu dekat akan segera bersurat secara resmi ke Pemerintah untuk memberikan solusi terbaik terhadap persoalan gagal panen ini. Karena jika dihitung-hitung kerugian akibat bencana ini ditaksir mencapai angka puluhan hingga ratusan juta tergantung luas lahan yang dimiliki. Belum lagi untuk mengolah lahannya mereka harus meminjam uang ke perbankan terlebih dahulu dan baru akan dibayar setelah panen mendatang. Tetapi karena kemarau panjang yang terjadi saat ini, masyarakat berharap supaya Pemerintah bisa memberikan atensi khusus terhadap persoalan ini supaya petani tidak terlalu merugi. “Kami di Kokarlian tidak bisa berbuat banyak ketika kemarau melanda, karena kami tidak memiliki sumber mata air baku yang bisa digunakan,” tukasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian (Distan) melalui Kabid Tanaman Pangan, Syaiful Ulum SP, mengaku masih belum mendapatkan laporan secara resmi dari PPL terkait dampak bencana tersebut. Jika ada laporan pasti akan ditindak lanjuti sesuai dengan keinginan masyarakat. Bantuan benih juga akan disiapkan bagi para petani yang mengalami gagal panen sehingga tidak terlalu merugi. Sementara terkait pembayaran pinjaman di Bank pihaknya tetap akan mencari jalan keluar terbaik agar tidak terlalu memberatkan petani salah satunya dengan asuransi. “Laporannya belum masuk, tetapi jika memang ada kejadian tersebut tetap akan kita tangani secara maksimal. Sehinggga para petani tidak terlalu merugi lantaran bencana gagal panen tersebut,” pungkasnya. (ils)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here