Ratusan Hektar Lahan Jagung di Desa Kertasari Gagal Panen

Nampak ratusan hektar lahan jagung di Desa Kertasari Kecamatan Taliwang puso (gagal panen). (Suara NTB/ist)

Taliwang (Suara NTB) – Sedikitnya sekitar 125 hektar lahan jagung yang berada di desa Kertasari mengalami gagal panen di musim tanam pertama tahun 2020. Hal tersebut terjadi lantaran kemarau panjang yang melanda wilayah setempat serta serangan hama ulat gerayak. Bahkan saat ini para petani jagung sudah mulai membersihkan lahan mereka karena sudah tidak ada harapan lagi jagung tersebut akan tumbuh normal.

“Luas lahan yang sudah dinyatakan mengalami gagal panen baru sekitar 125 hektar yang sudah kita laporkan ke Dinas untuk segera ditindak lanjuti. Jumlah ini juga kita prediksi akan terus bertambah karena hujan yang tidak kunjung normal masih terjadi hingga saat ini. Kondisi ini kembali diperparah dengan tidak adanya air yang bisa dimanfaatkan untuk mengairi lahan tersebut sehingga tidak ada cara lagi untuk menyelamatkan lahan tersebut,” ungkap PPL di wilayah Kertasari Andi Muksin, kepada Suara NTB, Jumat, 13 Maret 2020.

Iklan

Dikatakannya, tidak adanya sumber mata air yang bisa digunakan oleh para petani untuk mengairi sawah-sawah mereka menjadi faktor utama sehingga lahan tersebut tidak bisa diselamatkan oleh para petani. Meskipun adanya bantuan mesin air nantinya, diyakini tidak akan memberikan dampak apapun karena sumber mata air yang tidak lagi tersedia.

Jika dihitung, kerugian akibat bencana ini ditaksir mencapai angka puluhan hingga ratusan juta tergantung luas lahan yang dimiliki. Belum lagi untuk mengolah lahannya mereka harus meminjam uang ke perbankan terlebih dahulu dan baru akan dibayar setelah panen mendatang.

Tetapi karena gagal panen, masyarakat berharap supaya Pemerintah bisa memberikan atensi khusus terhadap persoalan ini supaya petani tidak terlalu merugi. Terutama kaitannya dengan keringanan beban untuk membayar pinjaman di Bank, karena jika tetap dipaksa untuk membayar sesuai dengan kesepatakan maka para petani akan sangat merasakan dampaknya.

“Para petani sangat berharap agar Pemerintah bisa memberikan atensi khusus terhadap masalah ini terutama kaitannya dengan pinjaman Bank untuk bisa diberikan toleransi dalam hal pembayaran, karena kalau diminta untuk bisa dilakukan satu bulan kedepan mereka tidak akan siap,” sebutnya.

Menanggapi masalah tersebut, Kepala Dinas Pertanian (Distan) melalui Kabid Tanaman Pangan, Syaiful Ulum, SP mengaku masih belum mendapatkan laporan secara resmi dari PPL terkait dampak dari kemarau panjang tersebut baik itu gagal panen maupun masalah gagal tanam. Jika ada laporan pasti akan ditindak lanjuti sesuai dengan keinginan masyarakat. Bahkan saat ini pihaknya sudah mengusulkan bantuan bibit jagung dengan total luas tahan sekitar 7.500 hektar.

Bantuan benih inilah yang akan diberikan kepada para petani yang mengalami gagal panen sehingga tidak terlalu merugi. Sementara untuk masalah pembayaran pinjaman di Bank pihaknya tetap akan mencari jalan keluar terbaik agar tidak terlalu memberatkan petani salah satunya dengan asuransi.

“Laporannya belum masuk, tetapi jika memang ada kejadian tersebut tetap akan kita tangani secara maksimal. Sehinggga para petani tidak terlalu merugi lantaran bencana gagal panen tersebut, minimal kita bisa berikan bibit di musim tanam kedua sudah sangat membantu,” pungkasnya. (ils)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional