Ratusan Hektar Jagung Dinyatakan Puso

Nampak ratusan hektar lahan jagung di Kecamatan Poto Tano yang dinyatakan puso (gagal panen).(Suara NTB/ist Camat Poto Tano)

Taliwang (Suara NTB) – 382 hektar lahan jagung yang mengalami kerusakan berat akibat kekeringan dinyatakan gagal panen (Puso). Bahkan saat ini para petani jagung tersebut sudah mulai membersihkan lahan mereka karena sudah tidak ada harapan lagi jagung tersebut akan tumbuh normal.

Sementara, ribuan hektar lahan yang sebelumnya dilaporkan terdampak kekeringan ke Kecamatan sudah berangsur pulih karena hujan dua hari yang lalu, meski kondisinya belum sepenuhnya dinyatakan normal.

Iklan

“Memang kondisi kekeringan yang terjadi di kecamatan Poto Tano tahun 2020 sangat parah dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Bahkan jagung dengan usia tanam 10-20 hari sudah menguning lantaran kemarau panjang yang melanda wilayah setempat. Kami juga sudah melaporkan kondisi ini ke Dinas, tetapi yang menjadi masalah saat ini kita tidak memiliki sumber mata air lagi sehingga penanganan lahan kering tersebut juga tidak bisa maksimal,” ujar Camat Poto Tano, Agusman S.Pt kepada Suara NTB, Selasa, 3 Februari 2020.

Dikatakannya, tidak adanya sumber mata air yang bisa digunakan oleh para petani untuk mengairi sawah-sawah mereka menjadi faktor utama sehingga lahan tersebut tidak bisa diselamatkan oleh para petani.

Meskipun adanya bantuan mesin air nantinya, diyakini tidak akan memberikan dampak apapun karena sumber mata air yang tidak lagi tersedia. Untuk itu, pihaknya dalam waktu dekat akan segera bersurat secara resmi ke Dinas Pertanian (Distan) agar memberikan solusi terbaik terhadap persoalan gagal panen ini.

Jika dihitung kerugian akibat bencana ini ditaksir mencapai angka puluhan hingga ratusan juta tergantung luas lahan yang dimiliki. Belum lagi untuk mengolah lahannya mereka harus meminjam uang ke perbankan terlebih dahulu dan baru akan dibayar setelah panen mendatang. Tetapi karena kemarau panjang yang terjadi saat ini, masyarakat berharap supaya Pemerintah bisa memberikan atensi khusus terhadap persoalan ini supaya petani tidak terlalu merugi. Terutama kaitannya dengan keringanan beban untuk membayar pinjaman di Bank, karena jika tetap dipaksa untuk membayar sesuai dengan kesepatakan maka para petani akan sangat merasakan dampaknya.

“Kami di Poto Tano tidak bisa berbuat banyak ketika musim kemarau, karena kami tidak memiliki sumber mata air baku yang bisa digunakan. Bahkan hanya beberapa unit sumur bor saja yang beroperasi secara maksimal, selebihnya sudah dalam kondisi rusak. Makanya kami berharap kepada pemerintah bisa membantu masyarakat kami kaitannya dengan masalah perbankan supaya petani tidak terlalu merugi,” pungkasnya. (ils)