Ratusan Burung Tanpa Dokumen Gagal Diselundupkan ke NTB

Salah satu jenis satwa liar yang gagal diselundupkan masuk NTB (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi NTB menggagalkan penyelundupan ratusan burung tanpa dokumen masuk NTB. Burung yang diketahui dikirim dari Pulau Jawa ini ditahan untuk selanjutnya akan dilepasliarkan kembali.

Penggagalan penyelundupan burung melalui jalur angkutan laut ini dilakukan berdasarkan informasi yang diterima tim BKSDA NTB. Berdasarkan informasi masyarakat, terdapat pihak yang melakukan pengangkutan satwa dari Bali menuju Lombok dengan menggunakan truk yang telah dilaporkan nomor polisinya. Burung-burung ini diselundupkan di kendaraan pengangkut sayur.

Iklan

Atas laporan tersebut, tim bergerak  sekitar jam 02.30 Wita menuju Pelabuhan Lembar. Dalam perjalanan inilah, tim berpapasan dengan truk pengangkut yang dilaporkan. Hingga akhirnya dilakukan pemeriksaan.

Dari pemeriksaan inilah, ditemukan 21 keranjang berisi satwa jenis burung yang dikembangbiakkan, satwa liar dan satwa yang dilindungi, kata Koordinator Polhut di BKSDA NTB, I Nengah Sudiarsa. Jenis-jenis burung yang digagalkan penyelundupannya ini diantaranya, poksai, jalak suren, parkit, jalak nias, jalak kebo dan puyuh.

“Parkit dan puyuh ini adalah jenis burung yang dikembangbiakkan. Jenis burung yang tidak dilindungi. Nantinya akan dititip di kawasan konservasi di Tastura, Lombok Tengah,” ujarnya.

Diketahui burng-burung yang akan dikirim masuk Lombok ini tidak dilengkapi dokumen resmi. Karena itu, pelakunya dianggap melanggar PP nomor 8 tahun 1999 tentang pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa. Tersangka selanjutnya akan diproses.

Lugi Hartanto, Kepala Sub Bagian TU BKSDA Provinsi NTB menyebutkan, banyak kemungkinan kenapa masih saja ada penyelundupan. Yang paling memungkinkan adalah masih tingginya permintaan pasar. BKSDA telah melakukan pengetatan pengawasan di bandara guna mengantisipasi pengiriman satwa menggunakan jalur udara.

“Salah satu tugas BKSDA adalah melakukan pengawasan peredaran satwa. Tidak peduli, apakah masuk NTB, atau keluar NTB. semuanya harus dengan dokumen lengkap,” ujarnya.

Biasanya satwa yang digagalkan, yang akan dikirim dari NTB ke luar daerah. Hasil tangkapan kemarin, kebalikannya. Dari Yogya, akan masuk ke NTB. Yang dikhawatirkan adalah kesehatan satwa akan dimasukkan ini tidak ada jaminannya. Belum lagi, jenis-jenis yang burung yang digagalkan ini tidak termasuk habitatnya di NTB.

“Ini bisa menyebabkan tidak seimbangnya ekosistem,” jelas Lugi. Terhadap hasil sitaan ini, BKSDA akan mengembangkan kasusnya. Tim menurut Lugi, tengah mencari tahu pemiliknya untuk mendapatkan keterangan lebih detail. Proses akan tetap dilanjutkan. (bul)