Rata-rata Lama Sekolah Masih Jadi Masalah di NTB

Mataram (Suara NTB) – Rata-rata lama sekolah masih menjadi masalah pendidikan di NTB. Meski demikian, pemerintah provinsi NTB menyebut rata-rata lama sekolah tidak bisa menjadi indikator kinerja dalam waktu singkat.

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) NTB, Drs. H. Muh. Suruji. Menurutnya, hanya satu yang belum tercapai di RPJMD yaitu rata-rata lama sekolah.

Iklan

“Itu sudah saya sampaikan, rata-rata lama sekolah tidak bisa jadi indikator kinerja dalam waktu singkat, indikator kinerja 15 tahun ke atas baru bisa. Yang dihitung rata lama sekolah, 24 tahun ke atas,” jelasnya.

Rata-rata lama sekolah di NTB belum mencapai target RPJMD. Data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) NTB, pada 2016, Pemprov menargetkan rata-rata lama sekolah sebesar 7,40 tahun. Namun baru terealisasi sebesar 6,79 tahun.

Capaian indikator rata-rata lama sekolah selama 2012 – 2016 bergerak lambat. Pada 2012, rata-rata lama sekolah sebesar 6,33 tahun, 2013 sebesar 6,54 tahun, 2014 sebesar 6,67 tahun dan 2015 sebesar 6,71 tahun.

Suruji menjelaskan dalam menghitung rata-rata lama sekolah, yang dihitung penduduk yang berusia 21 tahun ke atas. Sementara, penduduk yang berusia 21 tahun ke bawah tidak dihitung. “Di mana, penduduk NTB yang sampai 18 tahun sekarang ini di atas 90 persen angka partisipasi murni untuk SLTA. Tetapi di bawah 21 tahun itu tidak masuk dalam data,” kata Suruji

“Rata-rata lama sekolah itu akan berubah dalam jangka waktu tidak pendek. Tidak tiga tahun, lima tahun, enam tahun. Tapi dalam jangka waktu 10 tahun ke atas dalam suatu daerah. Ketika pemerintah itu memulai gerakan lama sekolah,” kata Suruji.

Meskipun indikator Angka Partisipasi Kasar (APK), Angka Partisipasi Murni (APM) sudah mencapai 100 persen di semua jenjang pendidikan dasar dan menengah. Namun, kata Suruji keberhasilan itu akan terlihat dalam 10 tahun ke depan. (ron)