Rangga Babuju, Berdayakan Pemuda di Daerah Rawan Konflik di Bima

Mataram (suarantb.com) – Bima, terkenal sebagai daerah rawan konflik. Konflik antar desa maupun antar pemuda kerap diberitakan media. Namun Julhaidin, yang terkenal dengan panggilan Rangga Babuju menyebutkan situasi di Bima tidak seburuk itu. Buktinya, ia bersama Komunitas Babuju berhasil memberdayakan pemuda yang terkenal gemar menyulut konflik berubah jadi pengusaha muda dan relawan kemanusiaan.

“Di Bima itu, keadaannya tidak seburuk yang diberitakan media. Kalau ada konflik kita dibunuh lah, dilukai, tidak ada itu. Saya bisa buktikan, kalau mau ikut saya ke wilayah rawan konflik,” tantangnya.

Iklan

Rangga memang sangat menyayangkan pemberitaan yang menyebutkan Bima  tempat orang saling bunuh, sarang teroris, dan sebagainya. Ia mengatakan itu tidak benar. Memang diakuinya sering terjadi konflik di Bima, terutama saat masa panen usai. Namun, itu semua disebutnya hanya semacam hiburan untuk masyarakat.

“Kenapa saya sebut hiburan, misalnya konflik antar dua desa sebelum hari H mereka akur pergi ke pasar bareng. Malah saling sapa gini, “Woy, besok ya!”. Kan itu lucu namanya. Terus kalau pas mau konflik tidak ada media yang liput, atau  penontonnya kurang, pasti batal konfliknya,” ceritanya sambil tertawa.

Itulah hasil pantauan Rangga, hingga akhirnya ia mulai menelusup ke dalam kelompok-kelompok pemuda di Bima. Dan berhasil mengajak mereka untuk berubah menjadi pemuda yang produktif. Ditanya tentang jurus jitu menaklukkan pemuda-pemuda tersebut, Rangga hanya menyebut satu.

“Duduk dengan mereka, ajak mereka bicara dan dengarkan cerita atau  keluhan mereka,” ucapnya.

Berawal dari Komunitas Babuju yang didirikannya, Rangga bergerak mengajak pemuda untuk unjuk diri di masyarakat melalui seni dan budaya. Melihat masyarakat miskin yang susah mendapatkan akses pengobatan, karena terkendala biaya, Babuju tergerak menyentuh bidang kemanusiaan. Dengan membantu masyarakat memahami pemanfaatan BPJS Kesehatan hingga mendapatkan donatur untuk pengobatan mereka. Hingga saat ini sudah ada 19 pasien yang dibantu Babuju.

Program kewirausahaan mulai diretas Babuju sejak 2015. Saat ini telah banyak kelompok pemuda yang bergabung menjadi mitra Babuju.

“Banyak yang ingin gabung. Mitra yang kita bina ada yang residivis, mulai dari kasus pencabulan, pencurian, kekerasan. Kita terima semua, asal mereka memang ingin benar-benar berubah,” jelasnya.

Selain itu, ada syarat khusus yang ditetapkan Rangga untuk kelompok pemuda yang berasal dari desa rawan konflik. Selama tiga tahun tidak boleh ada konflik di desa tersebut. Dalam tiga tahun mereka juga harus sukses.

“Kalau itu tidak dijalankan bantuannya kita cabut,” katanya.

Bantuan yang diberikan Babuju bukanlah bantuan berupa uang. Untuk pemuda yang punya lahan pertanian, mereka diberi bibit. Yang memiliki potensi di bidang peternakan akan diberi bantuan ternak. Untuk modal berbentuk uang, sebagian besar hasil urunan dari anggota. Kadang dengan tambahan sumbangan dari pihak lain yang tertarik untuk membantu. Hanya saja, Rangga mengaku ia belum  menerima bantuan dari pemda.

“Sekarang pemuda yang doyan ribut itu sudah bisa cari uang sendiri. Yang residivis ada yang kerja di pembuatan kaligrafi, bagus nggak tuh. Mereka senang bisa dapat uang dengan keringat sendiri,” ujarnya senang.

Usaha Babuju mengajak para pemuda ini memang salah satu usaha untuk menekan terjadinya konflik di Bima. Diakui Rangga penanganan dari pemerintah selama ini tidak pernah berhasil menyelesaikan konflik. Dengan menerjunkan polisi, membuat seminar, itu semua tidak menghasilkan efek apa pun. Hanya menghabiskan uang.

“Jika pemda ingin serius selesaikan konflik, ajak pihak ketiga. Masyarakat itu sekarang tidak mau mendengarkan polisi, apalagi pejabat yang hanya bergerak lewat bawahannya saja. Tidak mau turun langsung ke masyarakat,” komentarnya.

“Kalau Aisyah Odist nantang Pemkot Mataram selesaikan masalah sampah. Sekarang saya tantang Bupati Bima buat selesaikan konflik lewat proyeknya saja. Apa bisa selesai? Tidak akan bisa,” sambungnya.(ros)