Putri Sultan Bima, Hj. Siti Maryam, Wafat di Usia 89 Tahun

Bima (Suara NTB) – Dr. Hj. Siti Maryam Salahuddin atau yang akrab disapa Ruma Ina Ka’u Mari wafat pada Sabtu, 18 Maret 2017 siang. Putri kedua dari Sultan Bima, Muhamad Salahuddin ini meninggal dunia dalam usia 89 tahun 10 bulan.

Ketua Majelis Kesenian Mbojo (Makembo), Ruslan, S.Sos kepada Suara NTB mengatakan, sebelumnya Ruma Ina Kau Mari dirawat di salah satu klinik di Kota Bima beberapa hari, akibat kondisi kesehatannya yang terus menurun dan penyakit jantungnya yang akut.

Iklan

“Kondisi kesehatan terus menurun sehingga sempat dilarikan ke RSUD Bima. Tapi tepat pukul 16.00 wita menghembuskan nafas terakhirnya,” katanya.

Menurutnya, jenazah almarhumah disemayamkan di pendopo Bima, sebelah utara lapangan Serasuba yang tidak jauh dari museum ASI Mbojo.

Putri Sultan yang bergelar Bumi Partiga itu dimakamkan di kompleks Raja dan Sultan Bima di sekitar masjid Sultan Salahuddin Bima, Lingkungan Sigi Kelurahan Paruga Kota Bima, Minggu, 18 Maret 2017 siang.

Sementara itu, Anggota Majelis Adat Bima Sara Dana Mbojo atau Bumi Nggampo, Abdul Karim mengatakan Ruma Ina Ka’u Mari, mengalami sakit sekitar tiga bulan lalu atau tepatnya empat hari sesudah banjir melanda Kota Bima.

“Penyakit tua yang dialaminya sampai menjelang kematian tiga hari kondisinya turun total,” katanya.

Dia mengaku, prosesi pemakaman tidak ada upacara khusus. Penguburannya dilakukan seperti warga biasa yang meninggal. Hanya saja, anggota majelis adat akan mengenakan jas dan celana berwarna putih serta sarung songket khas Bima.

“Hal ini sebagai tanda pelepasan,” akunya.

Wasiat

Sebelum tutup usia, Ruma Ina Ka’u Mari meninggalkan beberapa wasiat terhadap penerus Kesultanan Bima, serta harapan kepada gerenasi pemuda dan seluruh elemen masyarakat Bima.

Menurut anggota Majelis Adat Bima Sara Dana Mbojo atau Bumi Nggampo, Abdul Karim, wasiat yang ditinggalkan terutama untuk dua orang keponakannya. Yakni Hj. Fera Amalia dan Dewi Ratnah Muhlisah.

“Meminta Hj. Fera untuk mengurus semua rumah Tangga Kesultanan dan Majelis Adat,” katanya.

Selain itu, lanjutnya, Hj. Fera juga salah seorang yang ditunjukkan di mana disimpan barang-barang berharga Kesultanan selama ini. Diamanatkan itu, karena Hj. Fera orang yang dituakan dalam keluarga Kesultanan Bima.

“Sementara, untuk Dewi diminta untuk terus mempelajari aksara kitab Bo,” ujarnya.

Selain itu, alharmumah berharap khusus kepada generasi muda supaya tidak berbuat ulah yang merusak citra dan nama baik Bima. Mengingat semasa hidupnya perhatian utamanya terhadap perilaku generasi muda yang jauh dari adab dan budaya Bima.

“Beliau juga meminta semua elemen untuk membenahi Bima,” ujarnya.

Karim menambahkan, beberapa ide dan gagasan Ina Ka’u Mari telah banyak ditulis dalam buku. Terakhir buku yang berhasil diterbitkan yakni buku berjudul Naskah Hukum Adat Tanah Bima, dalam perspektif hukum Islam.

“Sementara gelar terakhir yang didapat yakni Bumi Partiga. Gelar ini didapat pada tahun 2002, dan  disahkan oleh Bupati Bima saat itu, H. Zainul Arifin,” terangnya.

Pemakaman

Sebelum dimakamkan, Minggu (19/3) sekitar pukul 09.00 wita, jenazah almarhumah dimandikan serta dikafankan di rumah duka. Kemudian ditandu keluar oleh Suba (Pasukan Kesultanan Bima) untuk dihadapkan di tengah pelayat.

Pada kesempatan itu, Hj. Fera ditunjuk sebagai perwakilan keluarga yang membacakan riwayat hidup almarhumah. Mulai dari lahir, riwayat pendidikan, jenjang karir selama hidup, serta perhargaan-perhargaan yang diraih mendiang almarhumah.

Setelah itu, Ferdiansyah Fajar Islam atau atau yang akrab disapa Dae Ade menyampaikan kata sambutan keluarga. Dae Ade meminta masyarakat Bima untuk mendoakan alharhumah agar diampuni semua kesalahan selama hidup.

“Apabila ada janji serta hutang almarhumah, mohon menyampaikan kepada keluarga. Semoga amal ibadah almarhumah diterima Allah SWT,” katanya.

Sesudah itu jenazah diserahkan secara simbolis kepada Dandim 1608 Bima, Letkol CZI Yudil Hendro, untuk dibawa ke tempat pemakaman Kompleks Mesjid Sultan Salahuddin agar dilakukan penguburan. Jenazah digotong aparat TNI/Polri.

Pantauan Suara NTB, prosesi pemakaman mantan anggota DPR RI ini, dihadiri ratusan masyarakat dari berbagai lapisan. Sejumlah pejabat Pemerintah Kota dan Kabupaten Bima pun hadir, antara lain Wakil Walikota Bima, A. Rahman H. Abidin, Bupati Bima, Hj. Indah Dhamayanti Putri, Wakil Bupati Bima, Drs. Dahlan M. Noer, anggota DPR RI Dapil NTB, M. Syafruddin, ST, Wakil Ketua DPRD NTB, Mori Hanafi Ketua DPRD Kabupaten Bima. (uki)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here