Putra Sulung Bupati akan Dinobatkan sebagai Raja Muda Bima

Bima (Suara NTB) – Putra Sulung Bupati Bima Hj. Indah Dhamayanti Putri, Muhammad Putera Febriyandi akan dinobatkan sebagai raja muda (Jenateke) Kesultanan Bima yang ke XVII. Penobatan gelar putra mahkota itu dilakukan secara terbuka di museum ASI Mbojo, Minggu, 18 September 2016.

Rato Nggampo atau pejabat yang menyatukan masyarakat yang sekaligus Ketua Panitia, Abdul Karim bin Abdul Aziz kepada Suara NTB, Kamis, 15 September 2016 mengatakan penobatan gelar raja muda itu sebagai salah satu syarat dikukuhkan menjadi Sultan Bima.

Iklan

“Penobatan Jenateke ini sebagai syarat diangkat Sultan Bima. Karena belum tentu jenateke yang diangkat menjadi Sultan Bima,” katanya.

Penobatan Yandi, sapaan akrab calon sultan, diakui Karim berdasarkan pertimbangan secara matang. Salah satunya dari segi kepribadian oleh internal majelis adat kesultanan Bima sara dana mbojo bersama lima ncuhi yang ada.

“Kenapa Yandi? selain kepribadiannya memenuhi syarat serta secara vertikal dari garis keturunan, dia merupakan anak dari almarhum Sultan Fery Zulkarnain. Acuan ini berlaku di Indonesia. Kalaupun sultan tidak memiliki keturunan boleh secara horizontal, misalnya adik, atau keponakan,” katanya.

Dia mengaku, dalam penobatan nanti calon sultan Bima itu akan dikukuhkan tunggal oleh Bumi Ruma Pertiga (ruma mari) atau Dr. Hj. Siti Maryam M. Salahuddin yang disaksikan oleh lima ncuhi di atas podium. Untuk melanjutkan adat dan budaya kesultanan Bima.

“Nanti penobantan akan disaksikan para undangan seperti Raja-Raja Se Nusantara dan masyarakat umum,” kata pria yang disapa Dae Kero ini.

Dia menjelaskan, beberapa hari sebelum penobatan, calon sultan akan dimandikan di sumur tua ncuhi dara yang terletak di Kelurahan Dara Kota Bima. Salah satu persyaratan untuk menunjukkan kebersihan.

“Kemudian keesokan harinya akan diarak untuk ziarah makam leluhur (raja-raja sebelumnya) sekaligus memanjatkan doa syukur tolak bala sambil menghidangkan bubur beras (karedo),” jelasnya.

Tepat malam hari H (Sabtu Malam) akan diadakan zikir roko (mendampingi). Kemudian pada paginya calon sultan akan diarak dari pasar tradisional Bima wilayah lingkungan Sarata Kelurahan Tanjung menuju tempat upacara penobatan yakni istana Asi Mbojo.

“Arak-arakan ini bertujuan bisa disaksikan dan diantar seluruh masyarakat hingga sampai pada tempat penobatan,” jelasnya.

Dia menambahkan, era penobatan itu telah berlangsung secara turun temurun. Mulai dari zaman kerajaan pertama abad ke 11 yakni Indra Zamrud yang diangkat oleh para ncuhi yang dipimpin Ncuhi Dara. Hingga berlanjut Kesultanan.

“Jika memenuhi syarat dan kriteria, Yandi  akan diangkat sebagai Sultan Bima ke 17,” pungkas Karim. (uki)