Pungutan Dana Kebersihan Dipertanyakan

Kondisi Pasar Gunungsari yang baru ditempati empat bulan lalu jorok dan kotor sekali. Hal ini sangat bertolak belakang dengan konsep pasar tradisional modern yang bersih.(Suara NTB/her)

Giri Menang (Suara NTB) – Para pedagang di Pasar Gunungsari mengeluhkan kondisi pasar yang baru ditempati empat bulan lalu, lantaran kondisi pasar dibangun tahun lalu tersebut kotor dan jorok. Para pedagang pun mempertanyakan peruntukan dana kebersihan yang dipungut dari pedagang setiap bulannya.

Pantuan koran ini, Pasar Gunungsari I berderet dengan pasar II yang tengah dibangun. Bangunan pasar ini tak seperti pasar biasanya terbuka, karena ditembok. Atapnya menggunakan spandek kombinasi bening (transparan) menyebabkan suasana di dalam pasar itu panas.

Iklan

Di bagian dalam, kondisi lantai pasar sangat kotor akibat tidak pernah dibersihkan. Saluran air tak berfungsi, sehingga menambah bau. Begitupula sampah berserakan di mana-mana. Tidak adanya Tempat Pembuangan sampah (TPS) di pasar ini mengakibatkan pedagang terpaksa membuang sampah sembarangan.

Pedagang di Pasar Gunungsari, H. Husni Tamrin mengeluhkan kondisi pasar yang kotor karena tidak pernah dibersihkan oleh petugas pasar. “Padahal kami tetap dipungut uang dudukan (kebersihan dan keamanan), tapi tidak dibersihkan, ini lah jadi masalah,”keluh dia.

Pedagang yang berjualan di pasar itu dipungut Rp 500 ribu  untuk kebersihan dan keamanan Rp2.000 dalam sehari. Namun pasar tidak pernah dibersihkan.  Karena tak tahan dengan kondisi kotor ini, pedagang berinisiatif membersihkan sendiri pasar tersebut.

Selain kotor dan jorok, saluran air irigasi di los pasar ini juga tak berfungsi karena tersumbat. Hal ini mengakibatkan air sisa membersihkan daging dan ayam tergenang sehingga menimbulkan bau tak sedap.

Hal senada diakui Ibu Fat, kondisi pasar sangat panas didalam pasar di saat jualan. Apalagi saat siang hari, panas sinar matahari yang masuk lewat atap spandek transparan. Karena tak tahan panas, pedagang pun berinisiatif memasang atap sendiri.  “Dampaknya daging kering, sehingga ndak laku kalau dijual,”ujar dia. Kalau alasannya takut jamuran, pedagang mengaku justru tidak akan jamuran. Pedagang sudah beberapa kali menyampaikan keluhan ini, namun tidak direspon.

Sekda Lobar, Dr. H. Baehaqi tak menampik kondisi Pasar Gunungsari. Pasalnya saat turun ke sana, pedagang banyak yang mengeluh. Hal ini harus ditangani OPD terkait, terutama menjelaskan ke warga soal konsep pasar ini. Pasar ini dibangun dengan desain tradisional modern. “Saya  sudah memanggil mandor (kepala) pasar agar rajin membersihkan pasar,”tukas dia.

Sementara itu Kepala Disperindag Lobar, H. Sabidin mengaku kalau masalah pengelolaan pasar baik itu kebersihannya bukan menjadi kewenangannya. Karena Disperindag hanya membangun pasar, setelah selesai dibangun diserahkan ke Bapenda. “Tapi kami sudah berkoordinasi dengan Bapenda terkait hal ini,” jelas dia.

Selain itu, pihaknya perlu koordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup untuk pengangkutan sampah di pasar tersebut. Terkait keluhan pedagang dengan kondisi pasar ini, ia berharap agar pedagang memaklumi karena baru dibangun. (her)