Puluhan Ton Benih Bawang Putih di Sembalun Terancam Rusak

Bawang putih benih yang tersimpan di gudang kelompok tani. benih-benih ini terancam rusak. Petani mempertanyakan dijadikannya Sembalun sebagai sentra bawang putih nasional.(Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Puluhan ton benih bawang putih di Sembalun, Kabupaten Lombok Tengah terancam rusak. Akibat ketidakpastian rencana pemerintah melakukan pembelian. Sejumlah kelompok penangkar benih bawang putih di Sembalun sebelumnya sangat bersemangat, pemerintah menjadikan Sembalun sebagai sentra benih bawang putih nasional.

Salah satunya yang menggembirakan petani adalah kepastian pasar. Benih-benih bawang putih yang sudah ditangkarkan, secara otomatis akan diserap pemerintah untuk penanaman bawang putih di sejumlah daerah di Indonesia. Petani nampaknya tak menerima kenyataan sesuai harapan. Sudah enam bulan, benih bawang putih Sangga Sembalun milik petani tersimpan. H. Janirip Hairil, Ketua Kelompok Petani Makem, di Sembalun mengatakan, rencananya, bawang putih milik kelompok akan diserap untuk tanam pada bulan Mei dan Juni 2020 ini.

Iklan

“Dari Kementerian Petanian sudah turun juga ngecek sebulan lalu. Tapi hilang, tidak ada kepastian sampai sekarang,” katanya dihubungi Suara NTB, Jumat, 29 Mei 2020. Di kelompoknya, ada 10 ton yang masih tersimpan di gudang. Di kelompok-kelompok lain juga ceritanya sama. Ada lima kelompok penangkar benih bawang putih di sembalun. Setidaknya, total 40 ton yang tidak ada kepastian pasarnya.

Karena dijadikan sentra bawang putih nasional, dan harapan adanya kepastian pasar, bawang putih milik anggota di beli. Satu ton, harganya sekitar 45 juta. Namun hingga enam bulan, tidak ada kepastian pasar dari pemerintah, khususnya Kementerian Pertanian. Akibatnya, petani diambang kerugian. Benih bawang putih yang digudangkan terancam rusak bila masa simpannya lama.

Penyusutannya semakin besar. Khawatir rugi total, petani terpaksa melempar bawang putih benih ini ke pasar tradisional. Akhirnya bawang putih benih menjadi bawang putih konsumsi. “Kita jualnya Rp3.000/Kg. Jualnya sangat murah dari harga seharusnya, Rp45.000 sekilo. Dari pada rugi total. Jual berapa yang laku,” kata H. Hairil.

Dengan menjualnya ke pasar, dalam satu ton, petani mendapatkan harga Rp10 juta, belum temasuk pengurangan nilai susut dan biaya-biaya lain. Sebelum Covid-19, biasanya petani dengan mudah menjualnya ke berbagai daerah yang membutuhkan. Setelah corona, pengiriman serba terbatas. Kelompoknya adalah binaan Bank Indonesia. H. Hairil mengatakan, persoalan yang dialami petani juga sudah disampaikan kepada Bank Indonesia di Mataram. Harapannya, petani dibantu mencarikan jalan keluar pasar.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB, H. Husnul Fauzi justru  mempertanyakan siapa yang menjanjikan akan membeli pada bulan tersebut (Mei dan Juni). (bul)