Puluhan Ribu Obat Penenang Lolos ke Pasar Gelap NTB

Obat penenang jenis trihexyphenidyl (Suara NTB/ars)

Mataram (Suara NTB) – Puluhan ribu obat penenang jenis trihexyphenidyl diduga lolos ke pasar gelap NTB. Diduga obat untuk penghilang  rasa nyeri itu diedarkan untuk disalahgunakan, dengan harga jual lima kali lipat.

Korwas PPNS Polda NTB, Kompol. H. Ridwan mengungkapkan, sedikitnya 20.000 butir trihexyphenidyl   lolos dan beredar di pasar gelap NTB. Masuknya barang tersebut luput dari pantauan, diduga dikirim dari Jakarta melalui sebuah jasa ekspedisi.

Iklan

‘’Ini sebenarnya kita kecolongan, karena lebih besar dari ini sudah banyak yang lolos,’’ kata Kompol Ridwan kepada Suara NTB, Kamis, 10 Januari 2019.

Sebelum penyitaan 31.400 obat ilegal itu, pihaknya mendapat informasi masuknya jenis barang yang sama dengan modus serupa. Dikirim oleh seseorang dari pabrik ilegal di Jakarta melalui jasa ekspedisi di Mataram sebanyak 2000 strip. ‘’Jadi sekitar seminggu  yang lalu, ada 20.000 butir  yang lolos,’’ ungkapnya.

Upaya memburu jaringan itu sudah dilakukan. Pelakunya SH dan ABS yang ditangkap Rabu, 9 Januari 2019 lalu, karena menyelundupkan 19.000 butir melalui sebuah jasa ekspedisi. ‘’Pelakunya sama, dua orang ini. Tinggal kita kembangkan ke pelaku lainnya,’’ kata Ridwan.  Dua tersangka saat ini sudah ditahan di Polda NTB sejak Kamis kemarin.

Upaya pengungkapan melalui jaringan yang sudah ditangkap sebelumnya tetap dilakukan. Teridentifikasi inisial WW dan AZ berperan mengatur distribusi dari Jakarta ke Lombok. Bahkan peredaran obat gelap ini diperkirakan sudah lima tahun.  ‘’Jadi sebenarnya peredaran obat semacam ini sudah sejak lima tahun yang lalu,’’ ungkapnya.

Sebelumnya produk obat ilegal itu disita dari dua TKP berbeda. Kejadian pertama tanggal 31 Desember 2018. Jumlah barang bukti 13.400 tablet dalam dua kemasan. Kemasan strip 3.800 butir dan kemasan dalam botol 96.000 butir.  Kejadian kedua tanggal  9 Januari 2019, operasi penangkapan produk yang sama dengan jumlah 19.000 tablet. Total barang bukti yang disita 32.400 trihexyphenidyl disita.

 Kepala Balai Besar POM Mataram, Dra. Ni GAN Suarningsih, Apt., M.H menjelaskan, obat ini dibawa dari Jakarta dengan tujuan pasar gelap di Lombok.

Pengungkapan kasus ini berlangsung dua TKP  jasa ekspedisi berbeda. Kejadian pertama  Tanggal 31 Desember 2018 lalu,  dengan jumlah barang bukti 13.400 tablet dalam dua kemasan.

Suarningsih menjelaskan, obat ini beredar melalui pasar gelap Lombok dengan harga cukup mahal dibanding harga normal. Per strip dijual hingga Rp 100.000, dengan harga normal di apotek hanya Rp 20.000, itu pun melalui resep dokter.

Sementara dari sisi kesehatan, pengaruh penyalahgunaan obat ini sama dengan Tramadol. Jika dikonsumsi secara berlebihan, bisa menyebabkan halusinasi berlebihan dan daya rusaknya pada saraf otak. Dengan menyita barang bukti itu, menurut dia, berarti membantu menyelamatkan masyarakat yang jadi sasaran pasar gelap.

‘’Dalam satu strip saja, berarti kita asumsikan selamatkan satu generasi calon pengguna. Karena informasinya, satu strip yang isi 10 butir, itu dikonsumsi satu orang untuk mendapatkan efek yang diinginkan,” paparnya. (ars)