Puluhan Hektare Sawah Terendam Akibat Banjir Lotim

Mataram (suarantb.com) – Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan NTB, Husnul Fauzi menyampaikan musibah banjir yang terjadi di Kabupaten Lombok Timur (Lotim)  merendam puluhan hektare lahan pertanian yang ada di Kecamatan Keruak.

“Tidak sampai seratus hektar, masih puluhan sekitar 40 hektare. Itu baru di Kecamatan Keruak, yakni di Desa Sepit, Batu Putik, Selebung, Ketangga dan Ketapang, itu ada yang baru satu bulan dan satu minggu penanaman. Tapi airnya sudah surut kan, ada yang tergenang, tapi tidak sampai puso atau gagal tanam,” jelasnya, Selasa, 21 November 2017.

Selain Keruak, Husnul juga menyebutkan lahan persawahan di Kecamatan Jerowaru juga sempat tergenang. Namun, belum ada laporan berapa luas lahan yang tergenang air bah. “Di Kecamatan Jerowaru belum terindentifikasi, semoga segera datanya bisa masuk. Intinya dua kecamatan itu di Lotim,” katanya.

Dengan adanya bencana banjir ini, Distanbun NTB mengantisipasi dengan mengiventarisir daerah yang berpotensi bencana, baik longsor maupun banjir. Terutama, daerah dengan potensi longsor, yang membawa lumpur dan bisa merusak tanaman milik petani. Demikian pula banjir bandang yang berasal dari pegunungan, yang banyak membawa lumpur.

“Apalagi yang ada di wilayah aliran sungai, yang terkena biasanya di pinggir-pinggir, tidak menyebar. Lain halnya kalau banjir yang berasal dari pegunungan, Jerowaru kan topografinya tidak terlalu bergelombang, tidak ada pegunungan di sekitar itu,” sahutnya.

Untuk mengantisipasi bencana, petani juga diingatkan untuk mengikuti program asuransi petani yang telah disediakan pemerintah. Menurut Husnul, dari sekitar 120 ribu jumlah petani di NTB baru sekitar 40 ribu yang terdaftar asuransi. Sekitar 12 persen diantaranya telah melakukan klaim asuransi dengan penggantian Rp 6 juta per hektare.

“Memang kita minta lokasi yang rawan tergenang banjir untuk mengajukan asuransi. Karena berapapun banyaknya, asuransi Jasindo bisa memenuhi, karena itu sifatnya subsidi. 30 persen dibayar oleh petani, sisanya Rp 114 ribu atau 80 persen agunannya dibayar oleh pemerintah,” tambahnya. (ros)