Puluhan Hektar Tanaman Padi di Sumbawa Puso

Sirajuddin.(Suara NTB/ist)

Sumbawa Besar (Suara NTB) – Sebanyak 37 hektare tanaman padi pada musim tanam kedua (MT 2) di Kabupaten Sumbawa mengalami  puso atau gagal panen. Kondisi ini disebabkan tidak adanya sumber mata air yang bisa dimanfaatkan oleh para petani.

Kepala Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Sumbawa, Ir. Sirajuddin membenarkan hal tersebut. Puluhan hektare tanaman padi puso ini berada di wilayah Desa Kalimango, Kecamatan Alas. Sebelumnya para petani di wilayah setempat memaksakan diri untuk menanam padi. Padahal dalam kesepakatan pola tanam direkomendasikan untuk menanam palawija. “Ada 37 hektare yang sudah puso. Ini di luar kesepakatan pola tanam. Artinya petani melanggar pola tanam,” ujarnya kepada wartawan, Selasa, 11 Agustus 2020.

Iklan

Dijelaskannya, selain yang mengalami puso, pihaknya juga mendata sebanyak 75 hektare tanaman padi terdampak kekeringan pada MT 2 ini. Lahan tersebut berada di wilayah Desa Sepayung Kecamatan Plampang 15 hektare (kategori ringan), Desa Dalam Kecamatan Alas 35 hektare (kategori ringan), dan di Desa Sebasang Kecamatan Moyo Hulu 25 hektare (kategori berat). Rata-rata di lahan setempat juga tidak direkomendasikan untuk menanam padi. Namun petani tetap memaksakan diri menanam, karena awal April dan Mei saat menabur benih hujan masih berlangsung.

“Ini rata-rata yang bulan April dan Mei kemarin ada hujannya, jadi mereka menyemaikan benih padi. Padahal sudah dilarang untuk tanam padi dan dianjurkan untuk tanam palawija. Mereka memaksakan diri,” ungkapnya.

Terhadap puluhan hektar lahan terdampak kekeringan ini, pihaknya sudah berkoordinasi dengan UPT untuk melakukan pengecekan sekaligus mencari solusi. Namun permasalahannya di wilayah setempat tidak adanya sumber air. Jika kondisi ini terus berlangsung, kemungkinan besar puluhan hektare tanam  tersebut bisa terjadi puso.  “Untuk yang 75 hektare ini melanggar pola tanam. Di lapangan pompa air tersedia, cuma tidak ada sumber airnya. Terancam puso jika tidak ada perlakuan. Kalau tidak ada hujan, maka tidak bisa terselamatkan,” terangnya.

Sebelumnya, lanjutnya, tanaman padi di beberapa kecamatan lainnya juga berpotensi terjadi kekeringan. Seperti di Kecamatan Moyo Hilir, Moyo Hulu dan Moyo Utara. Meskipun demikian, saat ini tanaman padi tersebut sudah mendapatkan suplay air. Ke depannya, pihaknya akan terus melakukan pemantauan di lapangan. Terhadap tanaman padi yang terdampak kekeringan, pihaknya akan mengoptimalkan pompa air selama terdapat sumber air.  “Selama masih ada peluang kita selamatkan atau ada sumber air, kita optimalkan mesin pompa. Kita imbau kepada masyarakat agar ke depannya mentaati kesepakatan pola tanam,” tandasnya. (ind)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here