Puluhan Hektar Tanaman Jagung di Lotim Terancam Gagal Panen

Kondisi jagung petani yang gagal panen akibat hujan yang tidak turun selama beberapa minggu. (Suara NTB/rus)

Selong (Suara NTB) – Puluhan hektar tanaman jagung petani di Dusun Bunut Tunjang Desa Gunung Malang Kecamatan Pringgabaya Lombok Timur (Lotim) terancam gagal panen. Jagung terlihat mulai mengering sebelum waktunya. Jagung yang ditanam petani di lahan tadah hujan ini tak bisa berbuat apa apa. Hanya menanti keajaiban dan harapan jagung bisa selamat sampai musim panen.

Adalah Amaq Adie, salah satu petani jagung mengeluhkan kondisi jagungnya yang mengering dari bawah. Petani yang menanam di atas lahan 1 hektar ini hanya bisa pasrah pada nasib. Dia bertutur, hujan sudah 22 hari tak pernah turun.

Iklan

Melihat kondisi jagung makin parah, Amaq Adi mengaku sudah mukai menyabit untuk jadi pakan ternaknya. Musim tanam tahun ini diakui cukup memprihatinkan bagi para petani di Desa Gunung Malang. Dikatakan tak hanya dirinya, jagung lainnya juga mengalami hal serupa.

Soal biaya disebut sudah tak terhitung jumlahnya. Pemupukan sudah dua kali dilakukan. Harga pupuk urea dibeli Rp225 ribu per kuintal. Belum lagi biaya lainnya yang kalau diakumulasi mencapai Rp7 juta. Itupun sebagian besar merupakan uang yang dipinjam dari beberapa orang.

Petani lainnya, Inaq Urun menguraikan fakta serupa soal musim tanam tahun 2019 ini. Air hujan lama tak mengguyur dan daun jagung banyak yang layu. Tidak hanya itu, kondisi cuaca yang panas membuat petani Desa Gunung Malang banyak yang jatuh sakit.

Sebagian besar hanya bisa pasrah tak bisa berbuat apapun. Lebih memilih berdiam di rumah dibanding pergi ke kebun jagung. Jagung yang mengering sebelum pada waktunya ini jelas tak bisa berbuah dengan baik, karena akan mati muda. ‘’Isinya pun akan cenderung keriput. Saat sudah begitu, tak bisa lagi dijual sesuai harapan,’’ akunya.

Tidak hanya itu, mereka harus dihadapkan dengan harga jagung yang belum berpihak. Saat panen raya, harga jagung selalu anjlok. Mereka menduga, para pembeli sengaja menurunkan dengan drastis harga jagung saat masuk musim panen. Sementara kalau normal, harganya bisa dijual dengan harga Rp300 ribu per kuintal, namun, harga yang diterima petani sebagian besar Rp150 ribu per kuintal. Bahkan kerap juga Rp100 ribu per kuintal.

Kepala Bidang Prasarana dam Sarana Pertanian Dinas Pertanian Lombok Timur Lalu Kasturi ketika dikonfirmasi mengatakan masalah tidak adanya turun hujan menjadi pemikiran lebih lanjut penanganan ke depan. Hanya saja ditegaskan tidak bisa melawan alam.

“Kami punya solusi sementara untuk mengurangi kerugian petani itupun kalau ada sumber air yang diangkat dengan menggunakan mesin dan kami siap mendistribusikan mesin Brigade yang ada di kabupaten,” ungkap Lalu Kasturi.

Solusi kedua ia mengharapkankan petani bisa masuk Asuransi Usaha Tani Jagung (AUTJ) dengan membayar 5 persen dari jumlah klaim yang diinginkan. Petani jagung ketika mengalami gagal panen ini bisa diganti segala kerugiannya.

Tidak saja petani jagung. Termasuk petani padi pun disarankan ikuti AUTJ. Semisal nilai klaim Rp 5 juta, maka cukup membayar Rp 250 ribu sekali musim tanam. Hitungannya per musim tanam. Fenomena alam tidak bisa dilawan. Terlihat tak saja di Gunung Malang, wilayah Lotim bagian selatan juga banyak petani yang mengeluh, karena terancam gagal panen. Langkah lainnya, Dinas Pertanian Lotim mencoba untuk membangun bendungan dan embung embung kecil yang bisa menampung air. (rus)