Puluhan Hektar Lahan Cetak Sawah Baru Nganggur

Tanjung (Suara NTB) – Puluhan hektar lahan sawah yang dicetak pada tahun 2013 lalu belum dapat difungsikan secara optimal oleh masyarakat Desa Akar-Akar, Kecamatan Bayan. Pasalnya daya dukung irigasi lahan sawah milik warga tak memadai. Warga bahkan mengakui, areal lahan sawah baru yang dicetak di sejumlah dusun di desa itu masih diperlakukan layaknya lahan tadah hujan.

Kepala Dusun Temuan Sari, Ramli, kepada Suara NTB Rabu, 25 Oktober 2016 mengungkapkan petani di wilayahnya sangat memerlukan adanya sumber irigasi bendungan. Pengolahan lahan yang dilakukan masyarakat tak maksimal, karena keterbatasan air bersih.

Iklan

“Di dusun kami ada 51 hektar lahan yang dibuat dari program cetak sawah baru, saat ini belum dapat air dan lebih banyak nganggur. Di Dusun Otak Lendang juga begitu, sekitar 50 hektar, sedangkan sepengetahuan saya di Mumbul Sari sekitar 60 hektar,” katanya.

Sejatinya, Desa Akar-Akar, memiliki satu sungai yang mengalirkan debit air dalam jumlah besar setiap musim hujan. Sungai tersebut yaitu Lokoq Belok, di Dusun Pawang Timpas Barat.

Dituturkan Ramli, tahun 1980-an silam, Pemprov NTB telah memprogramkan pembuatan bendungan di sungai tersebut. Namun proyek itu urung terlaksana. Padahal masyarakat setempat sudah sepakat membantu pemerintah menurut kemampuan swadayanya. Sebagai bukti, di lokasi proyek bendungan itu masyarakat telah bergotong royong membuat pondasi tanggul dengan bentangan sekitar 8 meter dan ketebalan 2,5 meter. Selain itu, masyarakat juga secara sukarela membuat pintu air. Namun karena tak terurus, pintu air itu rusak dan hanyut oleh air bah.

“Di areal yang ada ini, kami terpaksa menyesuaikan tanaman. Di sawah bagian bawah kami tanami padi karena air mengendap, sedangkan di bagian atas kami tanam palawija. Itu pun hanya bisa kami lakukan sekali setahun saat musim hujan,” ujarnya.

Ramli menambahkan, potensi produksi padi dan jagung milik warga sangat potensial. Khusus jagung, produksinya antara 6 ton hingga 8 ton per hektar. “Harapan kami dengan turunnya pejabat kabupaten survai ke lokasi, bendungan ini bisa dilanjutkan,” imbuhnya.

Sementara, Anggota DPRD yang berasal dari Desa Akar-Akar, L. M. Zaki, mengaku, dirinya dan anggota Komisi III sudah turun ke lokasi bendungan bersama Wakil Bupati KLU, Sarifudin, SH, MH, beserta jajaran Dinas PU KLU. Respons pemerintah untuk melihat lokasi diharapkan berlanjut dengan masuknya usulan penganggaran proyek pada APBD murni 2017 mendatang.

“Sayang kalau ini tidak direspons, karena bendungan ini telah direspons sejak awal. Apalagi bendungan ini diperkirakan mampu mensuplai air irigasi untuk Desa Akar-Akar dan Desa Mumbulsari,” ujarnya.

Politisi PDIP ini optimis, kesenjangan ekonomi di masyarakat dapat dikikis apabila potensi pertanian kedua Desa itu dioptimalkan. Terlebih, lahan-lahan kering masyarakat akan beralih menjadi lahan subur.

Terpisah, Kepala Dinas PU ESDM KLU, Drs. H. Raden Nurjati, membenarkan pihaknya ikut mendampingi Wabup dan Komisi III DPRD ke lokasi Bendungan Pawang Timpas. Melihat potensi yang ada, ia optimis bendungan itu bisa ditingkatkan. “Survei itu baru awal, perlu perencanaan yang matang untuk bisa dibangun bendungan. Sebelum mengusulkan anggaran kita perlu studi kelayakan dulu, mencakup kelayakan potensi ekonomi, cakupan areal yang bisa ditanggulangi termasuk kuas dan status areal tanah,” paparnya.

Nurjati belum memastikan studi kelayakan tidak bisa dilakukan hingga pelaksanaan anggaran APBD P 2016 ini. Sebagai respon keinginan masyarakat, sangat memungkinkan studi kelayakan bendungan dilaksanakan pada APBD 2017. Setelah memperoleh gambaran yang dibutuhkan, pihaknya akan dapat menyusun dan mengusulkan anggaran proyek. (ari)