PT.GNE Sedang Restrukturisasi

Mataram (Suara NTB) – Kinerja PT. Gerbang NTB Emas (GNE) terus menjadi sorotan DPRD NTB. Terlebih sekarang, Pemprov NTB mengajukan perubahan Perda tentang PT. GNE untuk  penambahan modal dasar perseroan minimal Rp 75 miliar.  Direktur Utama PT. GNE, Drs. H. Syahdan Ilyas, MM yang dikonfirmasi Suara NTB menyatakan dibutuhkan penyertaan modal sebesar Rp 55 miliar lagi dari Pemprov NTB untuk mencapai modal dasar tersebut.

Ia menyatakan bahwa memang saat ini pihaknya sedang melakukan restrukturisasi Sumberf Daya Manusia (SDM) PT. GNE. Dalam melakukan restrukturisasi ini, pihaknya bekerjasama dengan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Inspektorat dan pengawasan internal PT. GNE.

Iklan

“Sedang kita tata SDM-nya dulu supaya dia punya kapasitas atau kemampuan untuk mengelola. SDM-nya harus benar-benar profesional. Kalau ndak, kita coret, berhentikan,” tegasnya.

Menurutnya, orang-orang yang bekerja di PT. GNE  dilakukan penilaian kinerja. Jika tak mampu mencapai target yang ditetapkan maka percuma dipertahankan. Untuk itu, orang-orang yang bekerja di PT. GNE harus punya kemampuan dari sisi pengetahuan.

Dari perubahan-perubahan yang dilakukan selama ini, kata Syahdan, pada tahun 2016 lalu, PT. GNE memperoleh keuntungan. Dimana, sekitar Rp 745 juta dividen dari PT. GNE disetorkan ke pemerintah daerah. Ia mengungkapkan, pada tahun 2016, PT. GNE memperoleh pendapatan sekitar Rp 6 miliar.

Namun, biaya operasional mencapai Rp 4 miliar. Belum lagi pembayaran pajak, gaji karyawan dan lainnya. Sehingga, keuntungan bersih yang diperoleh perusahaan daerah ini sekitar Rp 1,3 miliar setahun.

‘’Biaya operasionalnya tinggi juga. Kita coba cek tahun 2016, sebesar Rp 6 miliar pendapatannya. Tapi biaya operasional Rp 4 miliar. Tinggal Rp 2 miliar. Belum bayar pajak segala macam, (pendapatan) bersihnya sekitar Rp 1,3 miliar,” ungkapnya.

Dari keuntungan bersih itu, sebanyak 55 persen yang disetor menjadi dividen. Sisanya dipergunakan untuk investasi membeli peralatan dan lainnya.

Syahdan menambahkan, saat ini pihaknya sedang melakukan penataan terhadap unit-unit usaha yang dilakukan. Seperti perbengkelan modern, perluasan kawasan GNE Beton. ”Ketiga, sedang saya tata perdagangan umum di sebelah timur kantor yang memadai. Serta revolusi di RPH Banyumulek. Dari sisi manajemen dan orangnya,” ucapnya.

Pihaknya sedang memperluas usaha dengan penyertaan modal yang sedang diajukan tersebut.  Yakni GNE Beton, GNE Perbengkelan dan Assembling, GNE Konstruksi, GNE Perdagangan Umum, GNE Agro. Khusus untuk GNE Perdagangan Umum, akan dibuat outlet-outlet di pondok pesantren, semacam retail modern. Dari beberapa usaha yang dikembangkan ini, lanjut Syahdan, GNE Beton punya prospek bisnis yang menjanjikan dengan omzet mencapai Rp 15 miliar.

Dengan modal dasar sebesar Rp 75 miliar tersebut, rencananya akan dialokasikan untuk pengembangan sejumlah unit usaha. Diantaranya, GNE Beton Rp 22,5 miliar, GNE Konstruksi dan Properti Rp 5 miliar, Perbengkelan Modern dan Assembling Rp 7,5 miliar, GNE Agrobisnis dan Perdagangan Umum Rp 7,5 miliar, GNE Agrifood Rp 1,875 miliar, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Rp 1,875 miliar. Serta biaya umum dan pembangunan gedung Rp 10 miliar. (nas)