PSK dan Gay Diduga Marak Mangkal di Mataram

Ilustrasi PSK (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Praktik prostitusi masih jadi pekerjaan rumah pemkot Mataram. Para pekerja seks komersil (PSK) dan gay diduga marak mangkal di Kota Mataram. Pos terpadu dinilai efektif untuk meminimalisir penyakit masyarakat tersebut.

Suara NTB mencoba menelusuri titik – titik yang biasanya menjadi lokasi transaksi. Salah satunya, di Pasar Panglima (dulu Pasar Beras). Sejumlah perempuan duduk dan berdiri di bawah cahaya lampu remang. Berpakaian seksi dengan dandanan menor. Usia mereka sekitar 30 tahun. Di lokasi lainnya yakni Pasar Cakranegara juga demikian. Tidak saja terduga PSK yang mangkal menunggu lelaki hidung belang. Dua orang diduga gay baru saja turun dari kendaraan dan memilih berdiri di bawah toko.

Iklan

Dua lokasi ini kata Kepala Satpol PP, Bayu Pancapati dikonfirmasi pekan kemarin mengaku, sering dilakukan razia. Terduga PSK maupun gay diamankan dan diserahkan ke Dinas Sosial untuk dilakukan pembinaan. Tetapi tidak ada efek jera dari para pelaku. “Kita akan tangkap dan patroli akan kita tingkatkan,” tegas Bayu.

Kota Mataram kategori sebagai kota besar. Prostitusi menjadi salah satu dampak yang perlu diantisipasi. Kaitannya dengan keberadaan gay dipastikan sudah ada penikmatnya. Bayu mengatakan, tidak mungkin gay mangkal tanpa ada pelanggan. Jika tidak ada penikmat dipastikan mereka akan hijrah ke lokasi lain. Praktik ini harus ditelusuri dan perlu ditertibkan.

Kendala selama ini, pasca penangkapan oleh Satpol PP tidak diikuti dengan pembinaan. Dinas Sosial hanya menampung sebentar kemudian dilepas begitu saja. Padahal, ini menjadi penyakit masyarakat yang perlu ditertibkan bersama. “Begitu ditangkap tapi dilepas lagi. Diberikan keterampilan tapi pendampingan psikologinya tidak diberikan,” sesalnya.

Dinas Sosial Kota Mataram maupun Dinas Sosial NTB, perlu berinovasi. Pasca penangkapan PSK maupun gay harus dilakukan pendampingan secara berkelanjutan. Diakui, rata – rata PSK maupun gay yang mangkal di Cakranegara adalah pemain lama. “Kita bisa saja tangkap satu truk. Tapi bagaimana penanganan selanjutnya,” tandasnya.

Penanganan jangka panjang dinilai efektif adalah menempatkan posko terpadu seperti dilakukan Pemkot Mataram semasa Penjabat Walikota Mataram, Dra. Hj. Putu Selly Andayani di tahun 2015 lalu. Semua unsur mulai dari Satpol PP, Kepolisian, TNI, kelurahan hingga kepala lingkungan standby.

Keterlibatan semua unsur tersebut akan mengurangi aktivitas transaksi terduga PSK maupun gay di lokasi tersebut. “Tapi harus juga ditunjang dengan anggaran,” demikian kata dia. (cem)