Proyeksi Bank Indonesia, Ekonomi NTB 2020 di Kisaran 5,6 Persen

Dari kanan ke kiri, Kepala Bank Indonesia Perwakilan NTB, Achris Sarwani, Dody Budi Waluyo, Deputi Gubernur Bank Indonesia dan Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah melihat peta potensi NTB yang dibuat Bank Indonesia. (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Provinsi NTB berada pada kisaran hingga 5,6 persen pada tahun 2020 ini. Tahun 2019 lalu, Bank Indonesia juga memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada kisaran 5 persen. Namun karena berbagai faktor non teknis, pertumbuhan ekonomi NTB hanya tercapai 4, 01 persen.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB, Achris Sarwani menyampaikan usulan strategi-strategi agar pertumbuhan ekonomi NTB memenuhi proyeksi. Diantaranya, sektor pertanian secara luas  pertanian, peternakan, perikanan, perkebunan dari hulu  harus dipastikan bisa tumbuh lebih baik. Kemudian industri pengolahan hasil pertanian semakin banyak dan memberikan nilai tambah.

Iklan

Demikian juga dengan industri pariwisata  harus fokus digarap wisatawan domestik. Mengingat pengaruh global pada virus Corona yang saat ini masih menjadi masalah. ‘’Pariwisata dijaga dengan baik, terutama ada momentum MotoGP,’’ katanya.

Bank Indonesia Senin, 10 Februari 2020 kemarin menyelenggarakan kegiatan dialog dengan tema “Pemanfaatan Wakaf dalam Rangka Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Daerah’’ di ruang Serbaguna Bank Indonesia di Mataram. Kegiatan ini bekerjasama dengan Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) dan Badan Wakaf Indonesia Perwakilan NTB. Menghadirkan narasumber berkompeten dan seluruh stakeholders terkait di provinsi ini.

Dody Budi Waluyo, Deputi Gubernur Bank Indonesia juga hadir bersama jajaran Bank Indonesia lainnya. Pada kesempatan ini, Dody menyampaikan materi Perekonomian Indonesia: Prospek dan Arah Bauran Kebijakan dalam Menjaga Stabilitas dan Pertumbuhan Ekonomi.

Tahun 2019 ekonomi Indonesia masih tumbuh stabil. Kendati demikian, masih ada tantangan yang dihadapi meskipun perang dagang AS-Tiongkok telah mereda. Ekonomi global diproyeksikan membaik tahun 2020 ini, meskipun tak terlalu besar.

Tantangan yang tengah dihadapi dunia saat ini adalah virus Corona dari Tiongkok. Pembatasan sejumlah kerjasama negara dengan Tiongkok akibat kekhawatiran penyebaran virus mematikan ini akan berdampak luas pada perdagangan internasional. Setelah Corona merebak, sejumlah negara telah menyesuaikan kembali target pertumbuhan ekonominya.

‘’Kalau virus Corona ini tidak selesai pada semester I ini, cukup mempengaruhi ekonomi global,’’ katanya.

Tantangan ekonomi global karena virus Corona ini menurutnya akan berdampak pada daerah-daerah yang mengandalkan komoditas. Misalnya, Sumatera, Kalimantan dengan sawit dan batubara. Bagi daerah-daerah yang memiliki sumber daya alam, seperti NTB, diyakini lebih aman.

Dody juga menyampaikan peluang yang dapat disesuaikan oleh daerah. Peluang tersebut ada pada keuangan dan ekonomi syariah. Sejumlah negara telah berupaya merebut pasar ini. Misalnya, Thailand dan Jepang yang mendeklarasikan kuliner halal di dunia. Kemudian Asutralia dengan daging halalnya. Indonesia sebagai negara mayoritas muslim adalah potensi besar yang saat ini diincar.

Karena itu, Indonesia juga harus memanfaatkan peluang pasar ekonomi dan keuangan syariah di dalam negeri dengan potensi tidak kecil ini. NTB bahkan ditantang untuk mencuri perhatian dunia dengan kekuatan ekonomi syariahnya. Terutama halal toursm. ‘’Jangan sampai market ini dikuasai orang luar,’’ pesannya.

Untuk mendorong perekonomian, Bank Indonesia juga merencanakan akan melakukan pelonggaran suku bunga acuan. Sebelumnya, Bank Indonesia telah beberapa kali menurunkan suku bunga acuan dari 6 persen menjadi 5 persen.

‘’Masih ada peluang mengurangi kembali suku bunga acuan. Bank Indonesia bersama OJK sedang membahas agar suku bunga acuan ini diikuti oleh bank,’’ ujarnya.

Seyogyanya suku bunga acuan ini oleh industri keuangan telah disesuaikan. Jika tidak, maka akan menjadi peluang bagi pembiayan luar negeri masuk. Pertumbuhan kredit menurutnya harus 10 – 12 persen. Pada tahun 2019, hanya tumbuh 6 persen.

Hadir pada kesempatan ini, Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah. Orang nomor satu di NTB ini memberi pandangan tentang pertumbuhan ekonomi NTB tahun 2019 yang hanya 4,01 persen. Menurutnya yang utama bukan hanya peningkatan pertumbuhan ekonomi secara kuantitatif (angka), tetapi kualitas dari pertumbuhan itu sangat penting.

Karena itu, yang kencang didorong adalah industrialisasi. Jangan sampai menurutnya, terjadi pertumbuhan ekonomi tinggi, namun tidak dinikmati masyarakat.

‘’Jangan sampai pertumbuhan ekonomi tinggi, bukan barang kita. Bukan orang kita yang bekerja. Karena itu ekonomi berkualitas adalah produk lokal dan orang lokal yang bekerja. Dan itu tidak serta merta cepat. Karena itu, kita dukung produk di sini, diolah di sini, pekerja di sini, dapat income. Itulah salah satunya industrialisasi harus dimulai,’’ demikian gubernur. (bul)