Proyek Tak Tepat Waktu, Kemenag NTB Ditagih Kontraktor Rp 5 Miliar

Mataram (Suara NTB) – Pengerjaan  proyek gedung serbaguna Asrama Haji NTB di Jalan Lingkar Selatan Kota Mataram pada tahun 2015 lalu tidak tuntas tepat waktu. Proyek senilai Rp 57,4 miliar itu dituntaskan  kontraktor pada tahun berikutnya. Belakangan, Kanwil Kemenag NTB ditagih oleh kontraktor utang pembangunan proyek tersebut sebesar Rp 5 miliar.

Kepala Kanwil Kemenag NTB, H. Nasruddin, S.Sos, M. Pd yang dikonfirmasi Suara NTB, Selasa, 3 Oktober 2017 di ruang kerjanya mengatakan, proyek gedung serbaguna Asrama Haji itu belum ada serahterima dari kontraktor ke Kanwil Kemenag NTB.

‘’Itu (gedung serbaguna Asrama Haji) memang sampai hari ini belum diserahterimakan dari kontraktor kepada kita. Dikarenakan bangunan itu kita masih punya utang sekitar Rp 5 miliar. Sehingga pemborongnya belum menyerahkan kepada kita,’’ kata Nasruddin.

Ia mengaku tidak tahu persis kenapa Kanwil Kemenag NTB punya utang kepada kontraktor. Pasalnya, pada saat proyek itu dikerjakan dirinya belum menjabat Kepala Kanwil Kemenag NTB. Ia menjabat Kepala Kanwil Kemenag NTB baru beberapa bulan.

Namun, informasi sementara  yang diperoleh dari Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dan Kepala Bidang Haji dan Umrah, Drs. H. Maad Umar, bahwa kontraktor menyelesaikan pembangunan proyek gedung serbaguna Asrama Haji itu pada 2016. Dengan keterbatasan waktu pada saat anggaran pelaksaannya, kontraktor mau menuntaskan.

‘’Dengan perjanjian mau dibayar pada tahun anggaran berikutnya. Seharusnya 2015 sudah selesai pembangunannya dan pembayaran harus tuntas,’’ terangnya.

Anggaran pembangunan gedung serbaguna Asrama Haji NTB itu digelontorkan dari APBN pada 2015. Pagu dananya Rp 60.254.171.470. Proyek itu diikuti 97 perusahaan dan dimenangkan PT Adhi Karya (Persero)  Tbk dengan nilai penawaran Rp 57.444.338.000.

Sementara, untuk pengadaan jasa konsultan perencana pembangunan gedung serbaguna tersebut pagu dananya Rp 1.780.133.000. Sumber dana dari APBN. Proses lelang diikuti 50 peserta. Pemenangnya PT Penta Rekayasa dengan nilai penawaran Rp 1.557.402.000.

Seharusnya, proyek itu tuntas dikerjakan dan dibayar pada akhir 2015. Namun, sesuai ketentuan, jika pekerjaan tak dapat tuntas sesuai batas kontrak dapat diperpanjang dengan konsekuensi kontraktor dikenakan denda.

‘’Kontraktor tak bisa menyelesaikan tepat waktu. Tapi dia punya hak perpanjangan waktu sesuai dengan yang dipersyaratkan, mungkin sudah dihitung juga. Sehingga dikalkulasikan oleh BPK juga,’’ katanya.

Mengenai utang Kemenag sebesar Rp 5 miliar ini, kata Nasruddin, dirinya sudah membicarakan dengan Kabid Haji dan Umrah. Pembayarannya sedang diupayakan ke pusat. Namun sebelum dilakukan pembayaran, ia sudah memerintahkan supaya dilakukan pengecekan dan perbaikan bagian-bagian yang sudah mulai rusak dan keropos.

‘’Memang ada yang rusak  tetapi itu masih pemeliharaan. Makanya kita belum mau terima. Ada yang bocor sana sini itu harus diperbaiki dulu. Kemudian ada yang tidak sempurna, cat dan yang keropos-keropos hendaknya diperbaiki,’’ ujarnya.

Setelah dinyatakan benar-benar sempurna dan sesuai spesifikasi, kata Nasruddin, baru pihaknya akan melakukan pembayaran. Ia menjelaskan penyebab gedung serbaguna asrama haji ini belum dapat digunakan lantaran fasilitas-fasilitas pendukung seperti meubeler dan tempat tidur belum lengkap.

Apakah pembangunan gedung serbaguna asrama haji senilai Rp 57,4 miliar itu tidak termasuk fasilitas pendukungnya? Nasruddin mengatakan tidak mengetahui secara pasti.

‘’Saya belum tahu anggaran Rp 57,4 miliar itu apakah untuk pembangunan struktur saja atau bersama fasilitas-fasilitas pendukungnya. Karena sampai hari ini saya belum tahu rincian penggunaan anggaran sebesar itu,’’ ujarnya.

Ia mengaku telah memerintahkan PPK dan Kabid Haji untuk segera menyelesaikan semua urusan yang terkait proyek pembangunan gedung serbaguna asrama haji itu. Baik yang terkait dengan pembayaran maupun kesempurnaan fisik bangunan. Serta meminta supaya dilengkapi  fasilitas-fasilitas pendukung seperti meubeler dan tempat tidur.

Sehingga, gedung yang mangkrak dua tahun ini dapat dimanfaatkan. Nasruddin menyatakan, pada musim haji 2017 ini, bangunan tersebut baru dimanfaatkan bagian lobi dan beberapa kamar untuk Panitia Pelaksana Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Lombok. (nas)