Proyek Sumur Bor di Mataram Diduga Mangkrak

Mataram (Suara NTB) – Sejumlah proyek sumur bor yang dibangun oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang tahun 2013 – 2014 mangkrak. Proyek ini dibangun melalui program aspirasi nilainya mencapai ratusan juta rupiah. Di antaranya, sumur bor di Lingkungan Pakendelan dan Batu Mediri.

Di Lingkungan Pakendelan sejak dibangun 2014, masyarakat tidak pernah menikmati keberadaan sumur bor tersebut. Kualitas air dinilai sebagai penyebab. Saat ini, mesinnya telah rusak. Berbeda halnya di Batu Mediri. Proyek sumur bor dibangun berdekatan sawah sempat dinikmati warga. Namun saat ini tak pernah beroperasi. “Sudah lama tidak beroperasi,” kata warga setempat yang enggan menyebutkan identitasnya.

Iklan

Ibu 40 tahun  ini tidak mengetahui persis penyebab sumur bor itu tak beroperasi. Setelah mendapat sambungan air gratis dari Pemkot Mataram, tak lagi memanfaatkan. Suara NTB berungkali mengecek keberadaan sumur bor di Batu Mediri. Tak ada tanda – tanda mesin beroperasi. Atau sekadar percikan air menetes dari tandon yang dipasang di bagian atas.

Fakta berbeda disampaikan Kaling Batu Mediri Kelurahan Jempong Baru Kecamatan Sekarbela, Herman. Dia mengklaim sumur bor tersebut tidak ada masalah. “Semua beroperasi,” jawabnya. Dia menceritakan sumur bor usulan kepala lingkungan sebelumnya. Dinas Pekerjaan Umum saat itu, menyerahkan pengelolaannya ke lingkungan. Ini dimanfaatkan oleh 80 kepala keluarga untuk mencuci, mandi dan pemenuhan kebutuhan lainnya.

Hanya saja aku Herman, sering terkendala kehabisan pulsa. “Airnya bagus,” tuturnya. Karena dibebankan ke lingkungan secara otomatis masyarakat dikenakan biaya. Penarikannya tergantung jumlah pemakaian warga. Satu meter kubik dikenakan Rp 1.000. Kadang masyarakat membayar antara Rp 20 – 100 ribu. “Kos – kosan yang paling banyak dikenakan,” sebutnya.

Ir. H. Mahmuddin Tura selaku Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang mengatakan, akan menginventarisir terlebih dahulu sumur bor mana yang disinyalir mangkrak. Sebab, ini dikelola oleh lingkungan. “Akan diinvetarisir dulu karena pengelolaannya oleh masyarakat,” ujarnya. (cem)