Proyek Lapak PKL Senilai Rp450 Juta Belum Difungsikan

Lapak PKL ini belum difungsikan oleh pedagang karena kondisi sekitar lokasi tertutup lapak jualan makanan di depan dan kumuh.(Suara NTB/her)

Giri Menang (Suara NTB) – Proyek lapak jualan pedagang kaki lima (PKL) yang berada di terminal lama sekitar Pelabuhan Lembar, Desa Lembar Selatan Kecamatan Lembar yang dibangun tahun 2019 lalu belum difungsikan. Lapak kuliner senilai Rp 450 juta lebih itu hanya ditempati oleh beberapa pedagang, sedangkan sebagian besar lapak kosong. Untungnya ada pihak pengurus Koperasi Kopaja Lembar yang berupaya menghidupkan kuliner itu dengan menjual tiket di tempat itu.

Pantauan koran ini, lapak PKL yang berbentuk L (siku) itu dibangun di lahan milik Pemda. Sekitar areal lapak itu, tampak kumuh karena tertutup bangunan retail modern dan lapak PKL pedagang makanan yang mengelilingi bagian depan.

Keberadaan bangunan kios-kios yang tak terurus menambah kesan kumuh kawasan yang persis berada di pintu keluar masuk pelabuhan penumpang tersebut. Di sekeliling areal dibangun jalan masuk dan tempat parkir dari paving block. Namun areal ini tidak terlalu luas, sehingga enggan ditempati sopir truk untuk parkir kendaraannya.

Di lapak itu, dibangun 50 meja jualan. Dari 50 meja jualan, hanya beberapa saja yang ditempati pedagang untuk jualan. Sisanya sebagian besar tak terpakai. Terlihat meja jualan yang tak terpakai terlihat sudah rusak. Salah satu ruangan di lapak kuliner itu dipakai oleh pengurus Kopaja. Keberadaan Kopaja yang mengelola lapak itu pun cukup menghidupkan lapak kuliner itu.

Ketua Kopaja Lembar, Idrus Ridwan mengatakan lapak ini belum banyak ditempati karena beberapa faktor, yakni dampak pandemi Corona. Kondisi lapak tertutup dengan PKL dan bangunan retail modern di pinggir jalan, sehingga pedagang enggan berjualan di sana, karena itu pedagang berharap agar ritel modern dan lapak PKL di depan ditertibkan, sehingga lapak kuliner ini lebih terlihat dari luar.

Terkait penertiban lapal di areal itu, pihaknya sudah menyampaikan ke pihak Pemda. Selain itu, kawasan sekitar harus ditata. Berbagai upaya dilakukan pihaknya menghidupkan tempat ini. Sejak dua bulan lalu, pihaknya menempati kantor di lapak itu untuk pelayanan penjualan tiket penumpang dan jasa pengangkutan. “Kami terus berupaya menghidupkan lapak kuliner ini. Kami layani penjualan tiket penumpang di sini,” jelas Idrus.

Bahkan pihaknya langsung meminta pedagang agar segera menempati lapak tersebut.”Kami sudah minta pedagang menempati lapak itu,” ujarnya.

Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Lobar H. M. Fajar Taufik mengatakan lapak kuliner itu dibangun pihaknya tahun 2019 melalui dana tugas perbantuan bantuan dari Kementerian Koperasi. “Lapak PKL Lembar itu dibangun 2019, bersumber dari dana Tugas Perbantuan (TP) Kemensos,” jelas dia.

Mengacu juklak dan juknis, pembangunan lapak itu mensyaratkan jumlah meja atau lapak yang dibangun minimal 50 meja. Perkara ukuran lapak terlalu kecil, menurutnya itu hasil perencanaan dan pengawasan mengacu aturan juklak dan juknis serta dihitung berdasarkan standar biaya di Lobar. Sebelum dilakukan pembangunan, pihak desa setempat berjanji kepada dinas untuk menertibkan lapak jualan di depan tersebut. (her)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here