Proyek Jembatan di Pelangan Hanyut

HANYUT - Proyek rangka jembatan yang dibangun di Desa Pelangan Kecamatan Sekotong hanyut dibawa air sungai. (Suara NTB/ist)

Giri Menang (Suara NTB) – Proyek pembangunan jembatan penghubung daerah terisolir di Dusun Gunung Embit Desa Pelangan Kecamatan Sekotong Lombok Barat (Lobar) senilai Rp3,6 miliar terganggu akibat rangka jembatan yang akan memasuki tahap pengecoran itu hanyut akibat derasnya arus sungai, Jumat, 9 November 2018. Proyek yang diklaim memiliki progres 70 persen ini pun dihentikan sementara menunggu kondisi air surut.

Informasi yang berhasil dihimpun koran ini, hujan deras mengguyur Desa Pelangan sejak Kamis, 8 November 2018 hingga Jumat dini hari. Air sungai yang merupakan kiriman dari gunung dan perbukitan yang ada di Desa Pelangan meluap dan membawa sampah-sampah pepohonan. Tiang-tiang penyangga proyek jembatan yang terbuat dari bambu pun tak kuasa menahan terjangan air dan sampah yang menumpuk, sehingga lengkungan jembatan yang terbilang rendah itu roboh dan sebagian hanyut.

Iklan

Kepala Dusun Gunung Embid, I Komang Semara menginformasikan rendahnya lengkungan jembatan yang menjadi penyebabnya. Selain itu tumpukan sampah yang terbawa arus juga membuat jembatan itu roboh. “Jembatannya roboh, diterjang air sungai yang meluap,” ujarnya.

Komang juga mengatakan bahwa pihaknya sudah beberapa kali menginformasikan kepada pihak kontraktor pelaksana terkait rendahnya lengkungan jembatan. Namun nampaknya tak begitu digubris. Begitu juga ketika dia memberanikan diri menghadap ke salah satu Kepala Bidang di Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Lobar, namun lagi-lagi informasi dan masukan yang disampaikan tak ditindaklanjuti. “Kami lebih paham dengan kondisi disana. Namun kami tidak mengerti apa yang menjadi pertimbangan pihak dinas dan kontraktor. Kami hanya bisa mengelus dada,” akunya.

Kepala Desa Pelangan, Zulkifli membenarkan hanyutnya rangka jembatan tersebut. Pihaknya sudah berkoordinasi dan melaporkan kejadian ini ke Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) dengan mengirimkan laporan berupa foto-foto kondisi proyek tersebut ke petugas pengawas proyek.

Sementara itu Kepala Dinas PUPR Lobar, Made Artadana mengatakan pihaknya sudah menurunkan tim ke lokasi proyek untuk mengecek langsung kondisi di lapangan. Hasil pantauan lapangan itu nanti dibahas bersama kontraktor untuk mengambil langkah selanjutnya. “Saya rapatkan dulu dengan kontraktor untuk langkah penanganan selanjutnya,” imbuhnya.

Terkait rekanan dan pengawas Dinas PUPR yang kurang menindaklanjuti masukan warga terkait proyek itu, menurut Made hal ini akan menjadi bahan evaluasi nantinya. Ia menambahkan poyek ini sendiri sudah hampir selesai pengerjaannya. Bahkan progresnya mencapai 60-70 persen. (her)