Proses Pengisian, BWS Minta Air Bendungan Jangan Diganggu

Kondisi bendungan Pandandure saat dalam proses pengisian. (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Hampir seluruh bendungan terkuras sepanjang tahun 2019 lalu, saat ini masih dalam proses pengisian. Menyusul tingginya potensi curah hujan (la nina). Karena itu, masyarakat diminta jangan dulu menganggu pengisian bendungan. Hingga terpenuhi level maksimal. Hal ini ditegaskan Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Nusa Tenggara I, Dr. Hendra Ahyadi, ST, MT. kepada Suara NTB.

Saat ini tingkat keterisiannya masih belum sesuai yang diharapkan. Meskipun intensitas hujan mulai tinggi. “Karena memang dulu keringnya relatif panjang. Dan seperti kita ketahui, banyak sekali masyarakat yang seharusnya pada saat kami menyimpan air untuk persiapan musim tanam, saat musim kering dipaksa untuk dikeluarkan tampungan kami,” katanya.

Selain itu, pola tanam petani, dari yang seharusnya belum waktunya tanam (tidak disiplin pola tanam), lebih dulu melakukan penanaman sehingga air yang ada di bendungkan dipaksa dikeluarkan sehingga bendungan terkuras. Posisi saat ini masih pengisian kembali. Misalnya Batujai, posisi airnya boleh dikeluarkan. Harus ditampung terlebih dahulu sampai batas tertentu. Hingga keterisian optimal, harapannya Desember sudah terpenuhi.

“Mudah-mudahan bisa penuh karena intensitas hujan tinggi,” imbuhnya. Meskipun, la nina saat ini diibaratkan seperti pisau bermata dua. Disatu sisi BWS mengkhawatirkan tingginya curah hujan tidak sebanding dengan daya tampung sungai yang berpotensi memicu luapan dan banjir. Disi lain, curah hujan ini sangat diharapkan untuk pengisian reservoir (bendungan).

Untuk proses pengisian bendungan, dan meminimalisir potensi banjir, Hendra mengatakan, Di awal,  ia telah telah meminta seluruh jajaran pengamat sungai untuk menelusuri sungai-sungai yang berpotensi mengalami penyumbatan, atau pendangkalan berat untuk ditangani langsung. Sebelumnya, BWS Nusa Tenggara I bersama stakeholders di bawah Kementerian PU PR telah menggelar apel siaga bencana pada pekan pertama November ini. Misinya adalah pembentukan lebih awal Satgas Penanggulangan Bencana, Tim Teknis Kaji Cepat  Membentuk/Mengaktifkan 7 Posko antara lain.

Posko Pusat berlokasi di Kantor Airlangga Mataram, Posko Wilayah Kota Mataram, Kabupaten Lombok Barat dan Kabupaten Lombok Utara berlokasi di Kantor Satker OP. Posko Wilayah Kabupaten Lombok Tengah dan Kabupaten Lombok Timur berlokasi di Kantor PPK OP 2 (Praya). Posko Wilayah Kabupaten Sumbawa Besar berlokasi di Kantor PPK OP III dan Posko Bantu di Kabupaten Sumbawa Barat berlokasi di Kantor Bendungan Bintang Bano.

Posko Wilayah Kota Bima dan Kabupaten Bima berlokasi di Kantor Pengamat Sungai DAS Rontu, dan untuk Posko Bantu di Kabupaten Dompu ada di Kantor Irigasi Dompu. “Posko-posko ini yang akan memotor dan menangani langsung kemungkin adanya sungai yang tersumbat karena material atau sejenisnya. Sehingga air sungai bisa lancar mengalir ke bendungan dan tidak mengakibatkan banjir. Bersamaan dengan datangnya la nina,” demikian Dr. Hendra. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan dapat meminimalisir bencana dan mempercepat penguatan tampungan air di bendungan untuk mendukung kebutuhan tanam petani. (bul)