Proposal FS Jembatan Lombok – Sumbawa Paling Telat Maret

H. Amry Rakhman (Suara NTB/nas)

Mataram (Suara NTB) – Pemprov NTB membantah informasi yang berhembus bahwa PT. Nabil Surya Persada, mengundurkan diri melakukan studi kelayakan atau feasibility study (FS) rencana pembangunan jembatan Lombok – Sumbawa. Setelah penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU), 23 Desember 2020 lalu, PT. Nabil Surya Persada diberikan waktu paling telat tiga bulan atau sampai Maret mendatang untuk menyerahkan proposal mengenai FS jembatan Lombok – Sumbawa.

‘’MoU itu memberi kesempatan kepada PT. Nabil Surya Persada untuk melakukan studi kelayakan dengan biayanya sendiri. Tidak ada biaya dari kita.  Selanjutnya, setelah ada MoU, dia membuat proposal. Itu nanti dikirim ke kita untuk dilihat, dibahas di sini,’’ kata Kepala Bappeda NTB, Dr. Ir. H. Amry Rakhman, M. Si., dikonfirmasi Suara NTB, Selasa, 12 Januari 2021.

Setelah proposal yang diajukan dianggap pantas untuk dilanjutkan. Baru kemudian, Pemprov melalui Tim Koordinasi Kerja Sama Daerah (TKKSD) mengambil kesimpulan bahwa proposal FS jembatan Lombok – Sumbawa layak untuk dilakukan.

‘’Setelah itu baru dia (investor) penelitian, mengolah hasil penelitian dan baru ada hasilnya. Setelah MoU ini, ada nanti perjanjian kerja sama dalam mengimplementasikan proposal itu,’’ jelas Amry.

Dalam mengeksekusi pelaksanaan FS Jembatan Lombok – Sumbawa, kata Amry, nantinya PT. Nabil Surya Perkasa akan bermitra. Sementara, Pemprov akan memfasilitasi dari sisi administrasi, perizinan, dan mendampingi ketika mereka melakukan penelitian di lapangan dalam rangka FS tersebut.

‘’Tapi bukan kita beban biayanya. Biaya FS-nya sudah secara eksplisit disebut dalam MoU pasal 5. Semua biaya yang terkait dengan implementasi MoU ini, menjadi tanggungjawab pihak kedua, PT. Nabil Surya Persada,’’ tambah Amry.

Mantan Kepala Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) NTB ini mengatakan PT. Nabil saat ini sedang menyusun proposal tersebut. Sampai sekarang, kata Amry, dirinya belum mendapatkan kabar bahwa mereka mengundurkan diri.

Amry mengatakan, hasil FS Jembatan Lombok – Sumbawa paling tidak sudah dapat diperoleh tahun 2021 ini. Dari FS itu akan diketahui apakah proyek ini layak atau tidak dilihat dari semua aspek. Mulai dari aspek teknis, pasar, finansial, ekonomi, kelembagaan, sosial, budaya, kesempatan kerja, lingkungan.

‘’Semua aspek dikaji dalam FS. Dari hasil survei awal rencana pembangunan Jembatan Lombok – Sumbawa ini punya peluang dari sisi  teknis. Tinggal nanti teknis yang mana sesuai keberadaan ekosistem lautnya, mereka yang punya keahlian, yang melakukan FS,’’ tandasnya.

Diketahui, hasil pra studi kelayakan atau pra-FS yang dilakukan konsultan dari Korea, biaya untuk konstruksi pembangunan jembatan Lombok – Sumbawa sebesar Rp850 miliar sampai Rp1 triliun. Dengan panjang jembatan 16,5 km, total biaya konstruksi paling sedikit Rp16,5 triliun. Jika ditambah dengan asesorisnya, maka butuh biaya sekitar Rp20 triliun. (nas)