Proporsional Menyikapi THR

Wolini. (Suara NTB/bul)

ASOSIASI Pengusaha Indonesia (Apindo) Provinsi NTB meminta semua pihak berpandangan proporsional terkait Tunjangan Hari Raya (THR) 1442 H/ 2021 ini. Pasalnya, tidak sedikit pengusaha yang belum bisa bangkit dari keterpurukan akibat pandemi Covid-19.

Ketua Apindo Provinsi NTB, Ni Ketut Wolini, Senin, 26 April 2021 mengatakan, dalam Surat Edaran (SE) Menteri Ketenagakerjaan yang terbaru juga terdapat klausul bahwa bagi pengusaha yang masih terdampak pandemi covid-19 dan tidak mampu, ada solusi pengusaha dan pekerja berdialog untuk mencapai sepakat secara kekeluargaan. Klausul itu mencerminkan tidak semua perusahaan dalam kondisi normal akibat pandemi covid-19.

Iklan

“Dalam klausul yang terbaru saya baca itu ada yang mengharuskan pekerja dan pengusaha itu musyawarah dulu, jadi tidak semua kebijakan pemberitan THR itu dilakukan. Coba bayangkan di NTB masih banyak sekali perusahaan yang tidak bisa berbuat apa – apa akibat Covid -19, bagaimana kalau mereka dibebani lagi bayar THR,” tanya Wolini.

Secara umum, APINDO juga setuju terhadap kebijakan pemerintah yang menekankan agar pengusaha membayarkan THR bagi pekerja. Apalagi pada Ramadhan tahun lalu hanya sebagian kecil perusahaan yang mampu membayarkan THR pekerjanya. Hanya saja, kondisi di NTB sedikit berbeda dibandingkan dengan daerah lain, karena pengusaha di NTB hampir dihadapkan dengan bencana dalam 3 tahun terakhir, mulai dari bencana gempa bumi pada 2018 yang dilanjutkan dengan bencana covid hingga saat ini.

“Coba bayangkan, pada 2018 kita terkena musibah gempa, lalu covid, ini kan bencana beruntun dan pengusaha tidak semuanya bisa pulih,” ujarnya. Meski demikian, Wolini juga memberikan peringatan kepada pengusaha yang sudah bisa melaksanakan aktifitas bisnisnya secara normal untuk tidak abai dalam memberikan THR kepada pekerjanya. Apalagi THR menjadi ketentuan wajib yang harus dibayarkan kepada pekerja sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

“Ya kalau kondisinya normal itu harus, jangan sampai nanti alasannya covid padahal dia sudah normal bisnisnya. Tapi kan memang pekerja juga tau kondisi perusahaannya karena yang bekerja kan mereka,” demikian Wolini. (bul)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional