Promosikan Tiga Gili untuk Kenormalan Baru Pariwisata NTB

Dewantoro Umbu Joka (Suara NTB/dok), Awanadhi Aswinabawa (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Persiapan menuju kenormalan baru pariwisata di NTB disambut baik oleh pelaku usaha, termasuk agen perjalanan. Terutama dengan pembenahan di kawasan Tiga Gili (Trawangan, Air, Meno) untuk memenuhi standar cleanliness, health, and safety (CHS).

Ketua Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) NTB, Dewantoro Umbu Joka, menerangkan pihaknya siap mempromosikan Tiga Gili jika pemerintah daerah telah menyatakan destinasi wisata andalan tersebut resmi dibuka kembali.

Iklan

“Khusus di Asita, kita setiap Rabu ada semacam bicara antar perwakilan daerah. Bagaimana masing-masing provinsi diberi kesempatan untuk mempromosikan kesiapan destinasinya kepada seluruh peserta meeting (pertemuan),” ujar Dewantoro saat dikonfirmasi, Jumat, 12 Juni 2020.

Diterangkan, pertemuan yang dilakukan oleh seluruh anggota Asita se-Indonesia tersebut juga mengundang beberapa perwakilan dari negara sekitar Asean dan lain-lain. “Rencananya Rabu ini ada persentasi dari Kadis (Pariwisata) dan Wagub terkait situasi terkini NTB, khususnya Lombok,” ujarnya.

Menurut Dewantoro, peran pemerintah untuk secara aktif menginformasikan kondisi terkini destinasi wisata NTB cukup penting. Dicontohkan dengan persiapan membuka Tiga Gili, dimana promosi yang dilakukan akan lebih meyakinkan jika ada penjelasan resmi dari pemerintah sendiri.

“Ini kesiapan kita, sehingga suatu saat bisa benar-benar normal, para pelaku (usaha) di luar Lombok sudah dapat gambaran dari pemerintah,” ujar Dewantoro. Dengan begitu, sinergi antara pelaku usaha dan pemerintah diharapkan bisa terjalin untuk menanggulangi dampak pandemi virus corona (Covid-19) saat ini. “Akan lebih meyakinkan kalau informasinya (terkait situasi terbaru) itu dari otoritas daerah,” sambungnya.

Di sisi lain, pelaku usaha pariwisata bidang disebutnya telah menyusun standard operational procedure (SOP) untuk masing-masing bidang pelayanan. Selain itu, rekomendasi Satgas Covid-19 yang ada di NTB juga menjadi acuan dalam penerapan kenormalan baru nantinya.

Beberapa SOP yang disiapkan antra lain pengaturan jumlah penumpang dalam bus pariwisata, maupun protokol lainnya yang akan diterapkan di bandara, restoran, hotel, dan lain-lain. “Nanti kita sesuaikan dengan kebijakan daerah. Misalnya kalau dari Bali ke Gili itu harus lewat bangsal dulu untuk didisinfektan dulu,” jelasnya.

Senada dengan itu, Ketua Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) NTB, Awanadhi Aswinabawa menerangkan kesiapan agen perjalanan telah menyiapkan SOP pelayanan tamu saat kenormalan baru nanti. “Misalnya tour guide (pramuwisata) kita minta selain pakai masker juga pakai face shield. Di mobil juga sudah disiapkan hand sanitizer, tisu basah yang ada disinfektannya, dan sarung tangan plastik untuk supir, tour guide, dan tamu sendiri jika membutuhkan,” ujarnya saat dikonfirmasi, Jumat, 12 Juni 2020.

Selain itu, formasi duduk di dalam mobil juga akan menerapkan herringbone system sesuai standar dari World Travel and Tourism Council (WTTC). “Jadi tidak bisa lagi dibuat full 100 persen tempat duduknya. Itu yang kita siapkan dari travel agent sendiri,” jelasnya.

Menurut Awan, saat ini NTB memang memasuki tahap pemanasan untuk menyambut kenormalan baru. Artinya, persiapan yang dilakukan masih membutuhkan evaluasi secara berkala terkait kesiapan NTB sendiri membuka diri di tengah pandemi yang masih berlangsung.

Untuk itu, sampai saat ini pasar yang menjadi sasaran adalah wisatawan lokal yang berasal dari sekitar NTB sendiri. “Kita belum berani (kalau membuka untuk daerah luar). Karena jangan sampai, kita buka kemudian terjadi kasus (positif Covid-19), kan malah masalah,” ujar Awan.

Selain itu, penjabaran kegiatan pariwisata yang bisa dan boleh dilakukan juga dinilai penting dilakukan. Pasalnya, beberapa kegiatan umum seperti kunjungan ke pasar, pusat perbelanjaan, dan lain-lian dikhawatirkan masih belum bisa dilakukan.

“Mungkin paket-paket yoga, atau yang lebih outdoor tidak dulu. Kepasar juga tidak dulu, tapi kalau mau diving atau snorkeling silahkan. Hal-hal demikian yang perlu kita siapkan. Produk-produk kita mesti disesuaikan dengan situasi saat ini,” pungkasnya. (bay)