Program Swasembada Bawang Putih Tersendat

Neni Yuliawati. (Suara NTB/rus) 

Selong (Suara NTB) – Petani bawang putih varietas sangga Sembalun dan Lumbu Putih banyak merugi. Semenjak situasi pandemic corona virus disease (Covid-19), tahun 2020 lalu banyak stok benih yang tidak bisa terserap. Kondisi ini membuat petani banyak menjual dengan harga tidak sesuai. Program swasembada bawang putih ini pun menjadi tersendat.

Kepala Bidang Produksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Lotim, Neni Yuliawati mengemukakan pemerintah pusat telah mencanangkan Sembalun sebagai sentra produksi benih nasional tahun 2017. Program swasembada bawang putih ini direncanakan akan dilaksanakan selama lima tahun kedepan. Harapannya bisa selesai tahun 2023 Indonesia bisa menjadi negara swasembada bawang putih.

Iklan

Kebijakan pemerintah pusat itu membuat banyak petani Sembalun cukup bersemangat hingga tahun 2019 banyak petani yang tanam bawang putih. Tahun 2020, terjadi pandemi membuat program swasembada ini sempat terhenti. “Bahkan tahun 2020 itu tidak ada sama sekali,” sebutnya.

Kenyataan pahit tahun 2020 itu masih berdampak sampai sekarang. Harga bawang putih belum beranjak naik. “Anjloknya harga tahun 2020 lalu itu masih sampai sekarang dikarenakan corona ini, ini kan terjadi di semua sektor termasuk pertanian yang turut terkena imbas,” ucap Neni.

Menurut Neni, musim tanam tahun 2021 ini banyak petani yang berhenti tanam. Trauma tahun 2020 sehingga tdiak berani petani berspekulasi kembali. “Banyak yang salah  perkiraan,” urainya. Produksi benih petani bawang putih banyak yang tidak terserap pasar.

Awal tahun 2021, Kementerian Pertanian (Kementan) RI memberikan kembali program penanaman bawang putih di atas lahan 150 ha. Melihat masih adanya lahan yang kosong membuat Pemerintah Lotim meminta tambahan kembali. Kementan kemudian mengambulkan permohonan Lotim dan diberikan tambahan seluas 125 ha. Hal ini karena banyak daerah lain yang awalnya mau namun mengundurkan diri di tengah perjalanan. “Jadi total bantuan budidaya bawang putih tahun ini 275 hektar,” sebut Neni.

Dari 275 ha lahan tersebut dibutuhkan benih sebanyak 192,5 ton. Semuanya katanya bisa diperoleh dari penangkar-penangkar benih yang ada di Sembalun. Disebut ada 9 orang penangkar benih bawang putih di Sembalun. Melakukan penangkaran benih varietas Sangga Sembalun dan Lembu Putih.

Neni Menambahkan, varietas benih Sangga Sembalun diketahui hanya bisa ditanam diatas ketinggian 700 mdpl. Karenanya, khusus sangga ini sebagian besar hanya bisa ditanam di Sembalun. Dinas Pertanian mencoba membuat strategi untuk pengembangan bawang putih varietas Lembu Putih.  Varietas yang saat ini sudah banyak dibudidayakan ini bisa tumbuh baik di lahan-lahan yang lebih rendah. “Ini mau kita uji coba dulu dan akan teliti lebih jauh nanti dan sudah kita rencanakan dan tunggu dukungan anggarannya,” demikian Neni.

Sebelumnya, penangkar benih bawang putih Sembalun, H. Egi Prisma menuturkan harga bawang putih Sembalun saat ini belum berpihak pada petani dan penangkar benih. Sebelum corona, harga pembelian pemerintah untuk pengadaan bibit nasional ini Rp50-52 ribu/kg. Sementara saat ini, harga tersebut sudah merosot jauh.

Harga yang ditetapkan pemerintah sebut H. Egi ini jauh di bawah harga ideal yang diharapkan petani. Kondisi ini membuat petani dan penangkar melemah. Harapannya harga bisa lebih baik agar petani dan penangkar lebih bersemangat dalam melakukan budidaya. (rus)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional