Program Mahadesa Trade and Distribution Centre Sasar 500 Desa di NTB

H. Ashari (Suara NTB/nas)

Pemprov NTB menargetkan program Mahadesa Trade and Distribution Centre (TDC) menyasar 500 desa sampai akhir 2020 ini. Saat ini, sudah ada 20 desa di Lombok Barat (Lobar) yang sudah menjalin kerja sama melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dengan PT. Gerbang NTB Emas (GNE) untuk program Mahadesa.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Pemerintahan Desa Kependudukan dan Catatan Sipil (DPMPD Dukcapil) NTB, Dr. H. Ashari, S.H, M.H, mengatakan di Lobar, BUMDes yang akan melakukan kerja sama untuk program Mahadesa saat ini akan bertambah 20 desa. Sehingga di Lobar, ada 40 desa yang menjalin kerja sama untuk program Mahadesa.

Iklan

Selain Lobar, program Mahadesa juga menyasar desa-desa di Lombok Timur (Lotim). Ashari mengatakan ada 239 desa di Lotim yang ditargetkan semuanya menjalin kerja sama untuk program Mahadesa.

‘’Target  kita sampai Desember ini, (program Mahadesa) menyasar  500 desa. Kita sedang berusaha maksimal. Kita sudah sosialisasi kepada semua kabupaten. Sekarang, dengan motivasi kabupaten masing-masing, keseluruhan desa melaksanakan kerja sama,’’ kata Ashari dikonfirmasi di Kantor Gubernur, Senin, 28 September 2020.

Tahun depan, pihaknya menargetkan program Mahadesa menyasar seluruh desa di NTB yang berjumlah 995 desa. Setiap BUMDes nantinya memiliki TDC. BUMDes juga mendata kebutuhan masyarakat setiap dusun.

‘’Apa kebutuhan masyarakat sudah kelihatan. Siapa berbelanja apa, kelihatan. Tinggal ditulis, kemudian didistribusikan sesuai pesanan,’’ jelasnya.

Ashari menyebutkan, ada 1.000 macam produk yang dibutuhkan masyarakat tersedia di BUMDes. Melalui program Mahadesa ini, semua kebutuhan masyarakat sudah disiapkan. Masyarakat tinggal memesan, kemudian langsung diantarkan.

Termasuk juga, kata Ashari, BUMDes juga menerima produk-produk UMKM lokal. Lewat program Mahadesa ini, produk yang dihasilkan UMKM lokal juga bisa menjadi tempat pemasaran.

Ia memastikan, harga produk-produk kebutuhan masyarakat yang dijual lewat TDC Mahadesa lebih murah dan dapat dijangkau oleh masyarakat. ‘’Kalau ada usaha toko kelontong di masyarakat, dia nanti jadi agennya. Sudah dihitung setiap dusun itu berapa yang punya dagangan,’’ katanya.

Program Mahadesa yang dikembangkan Pemprov NTB  akan memperkuat infrastruktur perekonomian di desa. Selain itu, program Mahadesa juga akan mampu mengangkat berbagai produk UMKM lokal untuk bisa bersaing, tidak hanya menjadi tuan di negerinya sendiri, tetapi juga dipasar nasional dan global.

Untuk itu, Mahadesa TDC akan didukung sistem pemasaran terintegrasi (integrated marketing) berbasis digital. Gubernur NTB, Dr. H. Zulkifliemansyah, S. E., M. Sc., mengatakan  inovasi teknologi sebagai syarat utama untuk mewujudkan kemandirian UMKM lokal. Dan inovasi teknologi akan berhasil jika didukung oleh 5 aspek turunannya.

Yaitu, data permintaan pasar (Big data supply-demand), Industrialisasi Produk, pemberdayaan dan kolaborasi, akses dan transaksi keuangan serta pasar yang terintegrasi (integrated marketing). Menurutnya, ada dua hal penting yang ingin dicapai dari pemanfataan teknologi berbasis digital dalam pengembangan IKM/UMKM.

Pertama  memperluas akses pasar, baik itu domestik dan global. Kedua, memperbaiki proses bisnis yang lebih efisien.  Dan untuk memaksimalkannya, maka peran teknologi memberikan kemudahan untuk UMKM memperluas aksesnya.

Melalui program Mahadesa, UMKM akan dikembangkan melalui rantai bisnis pemberdayaan desa secara ekonomi dan masyarakat mendapatkan berbagai jenis kebutuhannya tanpa harus keluar rumah.

Pemesanan kebutuhan, dilakukan melalui sistem di perangkat ponselnya atau serba teknologi BUMDes dalam hal ini dilibatkan sebagai ujung tombak, sekaligus sebagai fasilitator yang akan merekap dan memenuhi pesanan rumah tangga (masyarakat).

Masyarakat berbelanja layaknya ke ritel modern, cukup hanya dari rumah melalui fasilitas Mahadesa ini. Sistem bisnis yang dikembangkan GNE dalam program Mahadesa ini yaitu dengan memanfaatkan seluruh BUMDes sebagai perpanjangan tangan untuk melakukan pendataan kebutuhan masing-masing rumah tangga.  Kebutuhan tersebut misalnya, sabun, odol, minyak goreng, beras dan sejeninya yang ada di katalog. (nas)